KALTIMPOST.ID-Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kaltim semakin meningkat. Hingga Agustus 2026, jumlah titik panas atau hotspot yang terpantau di wilayah Kaltim mencapai 9.861 titik. Angka tersebut bahkan telah melampaui catatan pada periode El Nino 2015.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisik (BMKG) Stasiun Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan Djoko Sumardiyono mengatakan berdasarkan hasil pemantauan satelit Terra dan Aqua, jumlah hotspot yang terdeteksi hingga Agustus tahun ini mencapai 9.861 titik.
Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan catatan hotspot pada Agustus 2015 yang mencapai 9.793 titik. Dengan demikian, terdapat selisih 68 titik atau sekitar 0,7 persen.
Baca Juga: LAPSUS: 936 Hektare Hutan di Kaltim Terbakar, Anggota DPR Hetifah Ingatkan Ancaman Belum Berakhir
“Artinya ada kenaikan hingga 0,7 persen titik panas,” kata Djoko kepada Kaltim Post, Sabtu (22/8).
Menurut Djoko, peningkatan jumlah hotspot tersebut perlu menjadi perhatian seluruh pihak. Meski titik panas tidak serta-merta menunjukkan adanya kebakaran di setiap lokasi, tingginya angka tersebut dapat menjadi indikator awal meningkatnya potensi karhutla.
Karena itu, upaya pencegahan perlu diperkuat, terutama ketika kondisi lingkungan memungkinkan api lebih mudah muncul dan menyebar.
Djoko mengingatkan masyarakat agar menghindari aktivitas yang berpotensi menjadi sumber api. Hal sederhana seperti membuang puntung rokok sembarangan, menurutnya, tetap dapat memicu kebakaran ketika kondisi vegetasi dan lahan dalam keadaan kering.
“Untuk itu perlu terus dilakukan kampanye dan patroli pencegahan kebakaran hutan dan lahan, jangan buang puntung rokok sembarangan dan lain-lain,” ujarnya.
BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menyimpulkan kondisi karhutla hanya berdasarkan visualisasi titik panas yang beredar di media sosial.
Salah satunya tampilan pada Google Maps yang sempat memperlihatkan Pulau Kalimantan seolah-olah dikepung api.
Baca Juga: KONI Balikpapan Bidik Juara Porprov Kaltim 2026, Nasib 64 Cabor Ditentukan pada 9 September
Menurut BMKG, data hotspot memang menunjukkan adanya peningkatan dan harus diwaspadai. Namun, interpretasi kondisi di lapangan tetap harus mengacu pada sumber data dan parameter pemantauan yang valid.
Artinya, keberadaan hotspot perlu dipahami sebagai indikator adanya anomali panas yang berpotensi berkaitan dengan kebakaran, bukan sebagai jumlah pasti kejadian karhutla. (rd)
Editor : Romdani.