Api Makin Membesar, Air Makin Langka! Cerita Petugas Karhutla Kaltim Berburu Air 5 Kilometer

Eko Pralistio • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 18:17 WIB
Dibalik meningkatnya kejadian karhutla di Kaltim, petugas di lapangan mengalami kendala dalam proses pemadaman, yakin ketersediaan sumber air. (FOTO/BPBD Kaltim)
Dibalik meningkatnya kejadian karhutla di Kaltim, petugas di lapangan mengalami kendala dalam proses pemadaman, yakin ketersediaan sumber air. (FOTO/BPBD Kaltim)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Api meluas, tetapi air untuk memadamkannya justru semakin sulit ditemukan. Itulah persoalan yang dihadapi petugas di tengah lonjakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur sepanjang Agustus.

BPBD Kaltim mencatat 306 kejadian karhutla sepanjang Agustus 2026. Luas area terdampak mencapai 1.027,94 hektare. Angka itu jauh lebih besar dibandingkan akumulasi Januari-Juli yang hanya mencatat 124 kejadian dengan luas 232,98 hektare.

Koordinator Pusdalops Penanggulangan Bencana BPBD Kaltim Cahyo Kristanto mengatakan, kekeringan membuat proses pemadaman di lapangan semakin sulit. Persoalannya bukan hanya mencari titik api, tetapi juga mencari sumber air.

Baca Juga: Dampak El Nino, 1.260 Hektare Lahan di Kaltim Hangus Terbakar Selama Agustus 2026

“Teman-teman di lapangan mau melakukan pemadaman, pertama yang terkendala adalah tempat untuk mengambil airnya,” kata Cahyo saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Minggu (23/8).

Menurutnya, anak-anak sungai yang selama ini menjadi sumber air mulai kehilangan debit ketika hujan tak turun selama dua pekan. Kondisi tersebut semakin berat setelah periode tanpa hujan berlangsung hampir sebulan.

“Begitu tidak hujan dalam dua minggu saja, anak-anak sungainya sudah mulai kering. Apalagi ini sudah sampai hampir satu bulan tidak ada hujan,” ujarnya.

Air pun lebih banyak terkumpul di sungai-sungai utama. Salah satunya Sungai Mahakam. Bagi petugas di lapangan, kondisi ini membuat sumber air semakin jauh dari lokasi kebakaran.

Baca Juga: 35 Pesawat Asing Bakal Bantu Padamkan Karhutla di Indonesia, Kemenhub Atur Izin hingga Ruang Udara

Dalam sejumlah penanganan, petugas bahkan harus menempuh jarak hingga lima kilometer untuk mendapatkan air. “Bahkan ada yang sampai lima kilometer baru dapat,” kata Cahyo.

Jarak tersebut tentu menjadi tantangan ketika api terus membesar. Setiap perjalanan mengambil air berarti tambahan waktu yang harus dilalui sebelum pemadaman bisa dilakukan secara maksimal.

Situasi ini terjadi bersamaan dengan peningkatan tajam jumlah karhutla. Dari 430 kejadian sejak awal tahun, 306 di antaranya terjadi pada Agustus. 

Luas terdampak sepanjang tahun mencapai 1.260,92 hektare, dengan 1.027,94 hektare di antaranya terjadi pada Agustus. Kabupaten Paser menjadi daerah dengan kejadian terbanyak, mencapai 105 kasus. Sedangkan luasan terbesar tercatat di Kutai Kartanegara, yakni 369,88 hektare.

Baca Juga: Lahan Gambut di Seputar Tol Samarinda-Balikpapan Terbakar Sabtu Malam

Cahyo mengatakan, kondisi kering memang menjadi salah satu faktor yang mempercepat munculnya kebakaran. Dampak El Nino juga disebut memperburuk situasi.

Namun, ia mengingatkan karhutla tidak seluruhnya disebabkan pembakaran lahan. Karakteristik geologi Kaltim juga ikut berpengaruh, terutama di wilayah yang memiliki kandungan batu bara di bawah permukaan tanah.

Di sisi lain, faktor manusia tetap perlu diwaspadai. Puntung rokok yang dibuang sembarangan, misalnya, dapat menjadi sumber api ketika vegetasi di tepi jalan dalam kondisi kering.

Karena itu, selain memperkuat respons pemadaman, BPBD menilai ketersediaan sumber air di wilayah rawan perlu dipersiapkan sejak awal. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membangun embung. “Antisipasinya kalau memang air ke tanah kita itu cukup bagus. Tapi itu luar biasa besarnya untuk membuat embung di daerah-daerah yang rawan,” kuncinya. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
karhutla Kaltim Kebakaran Lahan Paser Cahyo Kristanto Krisis Air Karhutla BPBD Kaltim