SAMARINDA-Kemarau panjang mulai memberi tekanan terhadap produksi air bersih di Samarinda. Penurunan debit air baku dan potensi intrusi air laut pada Sungai Mahakam sebagai salah satu sumber utama air baku, membuat sejumlah instalasi pengolahan air (IPA) harus dipantau lebih ketat.
Kondisi ini terutama berpengaruh terhadap wilayah yang mendapat suplai dari IPA yang sumber air bakunya berada di kawasan terdampak. Direktur Teknik Perumda Tirta Kencana Samarinda Kaharuddin mengatakan kondisi sumber air baku saat ini sangat dipengaruhi kemarau yang berlangsung cukup panjang.
Selain debit sungai yang menurun, masuknya air laut ke badan sungai juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi proses produksi air bersih. “Kemarau ini cukup panjang, sehingga debit air baku turun. Di sisi lain, kami juga harus mewaspadai intrusi air laut karena itu bisa memengaruhi proses produksi,” ucapnya, dikonfirmasi, Minggu (23/8).
Baca Juga: Api Makin Membesar, Air Makin Langka! Cerita Petugas Karhutla Kaltim Berburu Air 5 Kilometer
Dia menjelaskan, beberapa IPA yang berpotensi terdampak intrusi air laut yakni IPA Palaran, IPA Bantuas, IPA Pulau Atas dan IPA Makroman. Sedangkan penurunan debit air baku juga berpotensi memengaruhi IPA Pampang, IPA Gunung Lingai, IPA Bengkuring dan IPA Bumi Sempaja, di mana tiga di antaranya bersumber dari Waduk Benang dan Sungai Karang Mumus (SKM).
“Yang kami pantau bukan hanya debitnya, tapi juga kualitas air bakunya. Kalau kadar klorida sudah melewati ambang batas, tentu operasional IPA harus kami sesuaikan,” jelasnya. Dia menambahkan, penyesuaian operasional dapat berupa pengurangan jam produksi apabila kondisi air baku tidak memungkinkan. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas air yang didistribusikan kepada pelanggan. “Kami pantau berkala kondisi air baku di semua IPA,” tambahnya
Baca Juga: Dampak El Nino, 1.260 Hektare Lahan di Kaltim Hangus Terbakar Selama Agustus 2026
Dia pun meminta masyarakat mulai mengantisipasi potensi gangguan pasokan dengan menyiapkan cadangan air secukupnya. Termasuk mengimbau pelanggan menggunakan air secara bijak selama musim kemarau. “Kalau memungkinkan, agar masyarakat menyiapkan tampungan air secukupnya. Kemudian penggunaan air juga jangan berlebihan, terutama untuk kebutuhan yang tidak terlalu penting,” pungkasnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki