KALTIMPOST.ID- Debu proyek masih mengepul di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Pemandangan itu sekaligus menjadi bantahan Otorita IKN (OIKN) terhadap anggapan pembangunan ibu kota baru mangkrak. OIKN memastikan pembangunan tetap berjalan, salah satunya di kawasan legislatif dan yudikatif yang kini progres infrastrukturnya disebut mendekati 20 persen.
Deputi Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat OIKN Alimuddin mengatakan, progres tersebut meningkat dibandingkan beberapa waktu sebelumnya yang masih berada di angka 19 persen. "Kemungkinan sekarang ini sudah sekitar 20 persen, sedangkan minggu lalu masih 19 persen. Itu untuk kawasan legislatif dan yudikatif, ya," ungkapnya kepada Kaltim Post, Jumat (28/8).
Alimuddin menepis tegas anggapan bahwa pembangunan IKN mangkrak, dan menilai anggapan tersebut tidak menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan. Pihaknya mengimbau masyarakat tidak terpengaruh informasi yang tidak sesuai fakta. "Jangan hiraukan berita atau informasi hoaks, yang menyebut mangkrak, itu enggak benar. Sepanjang IKN masih berdebu, berarti pembangunan masih jalan," tegasnya.
OMC Bantu Datangkan Hujan di Kawasan IKN
Namun begitu, pengerjaan proyek di IKN bukan tanpa kendala. Kondisi cuaca menjadi salah satu tantangan yang dihadapi belakangan ini. Pemerintah bahkan melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan menaburkan natrium klorida di udara, untuk membantu mendatangkan hujan di kawasan yang membutuhkan. Hasilnya mulai terlihat. Hujan disebut telah turun di sejumlah wilayah, mulai Samarinda, Balikpapan, hingga kawasan IKN dan sekitarnya.
Sekolah Nasional Terintegrasi Mulai Beroperasi
OIKN, lanjut Alimuddin, memastikan pembangunan ibu kota baru tidak berhenti pada urusan beton, gedung, dan jalan. Pembangunan sumber daya manusia turut menjadi bagian dari agenda di kawasan tersebut, salah satunya lewat Sekolah Nasional Terintegrasi. Sekolah yang berada di IKN, Kabupaten Penajam Paser Utara, itu diklaim mulai beroperasi pada tahun ajaran 2026/2027, dengan total 82 peserta didik sebagai angkatan pertama. Mereka bahkan disebut sudah mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) selama lima hari, 10–14 Agustus 2026.
Dari sekolah itu, kata Alimuddin, konsep IKN sebagai kota hijau juga mulai dikenalkan kepada para siswa. Edukasi lingkungan diberikan sejak dini, mulai bercocok tanam, menanam pohon, hingga mengelola sampah. "Di tengah kondisi hutan yang mudah terbakar, IKN sejak awal dirancang sebagai kota hijau (green city). Anak-anak di sana mulai kami ajarkan sejak dini mencintai lingkungan," pungkasnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki