KALTIMPOST.ID-Sekitar 850 orang menundukkan kepala dalam doa di halaman Makodam VI/Mulawarman, Balikpapan, Sabtu (29/8).
Di tengah kemarau yang melanda sejumlah wilayah Kaltim dan Kaltara, prajurit TNI-Polri, pemerintah daerah, relawan, hingga masyarakat bersama-sama melaksanakan Salat Istisqa untuk memohon turunnya hujan.
Salat dimulai sekitar pukul 06.56 Wita dan berlangsung khusyuk. Ikhtiar spiritual tersebut dilakukan di tengah dampak kemarau yang tidak hanya memicu kekeringan dan keterbatasan air bersih, tetapi juga meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Hadir Pangdam VI/Mulawarman Mayjen Krido Pramono, Kasdam VI/Mulawarman Brigjen Andy Setyawan, Wakapolda Kaltim Brigjen Adrianto Jossy Kusumo, serta jajaran TNI-Polri. Turut hadir unsur BPBD, Basarnas, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan instansi terkait.
Baca Juga: Masalah THR dan PHK Terus Berulang di Balikpapan, Disnaker Ungkap Kendala Penyelesaiannya
Krido mengatakan, salat Istisqa menjadi momentum untuk melakukan introspeksi sekaligus memperbanyak istighfar dan memohon pertolongan Allah SWT.
“Salat Istisqa mengajarkan kita untuk menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan memiliki keterbatasan. Mari kita memperbanyak istigfar, memohon ampun atas segala dosa, serta memohon dengan penuh kerendahan hati agar Allah SWT menurunkan hujan yang membawa keberkahan,” ujarnya.
Selain ikhtiar melalui doa, Krido menekankan pentingnya langkah nyata menghadapi dampak kemarau. Ia mengapresiasi personel gabungan dan relawan yang terus melakukan penanganan karhutla di sejumlah wilayah.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Terutama membuka maupun membersihkan lahan dengan cara dibakar.
“Mari kita saling menjaga, tidak membuka lahan dengan cara membakar, serta mempererat sinergi dalam menghadapi kondisi kemarau dan ancaman karhutla,” katanya.
Salat Istisqa dipimpin Ustaz H Khoirul Fatoni sebagai imam, sedangkan khotbah disampaikan Ustaz Irfanuddin Hashim.
Baca Juga: Karhutla Meluas di Kalimantan, Mengapa Balikpapan Masih Bebas Asap? Ini Penjelasan BMKG
Dalam khotbahnya, Irfanuddin mengingatkan pentingnya doa, introspeksi, kesabaran, dan tawakal ketika menghadapi kemarau berkepanjangan.
Ia mengisahkan Sayyidina Umar bin Khattab ketika masyarakat Madinah menghadapi kemarau panjang dan memohon turunnya hujan.
“Andai setelah salat ini Allah turunkan hujan, itu bukan semata karena hebatnya doa kita, melainkan karena begitu luasnya rahmat dan kasih sayang-Nya. Dan andai hujan belum ditakdirkan turun, Allah sedang mengajari kita untuk terus belajar, bersabar, dan bertawakal,” ujarnya.
Doa bersama tersebut diharapkan memperkuat ikhtiar menghadapi kemarau. Selain memohon hujan segera turun, peserta berdoa agar kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi serta Kaltim dan Kaltara terhindar dari kekeringan maupun karhutla. (rd)
Editor : Romdani.