KALTIMPOST.ID-Sikap Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kaltim sejalan dengan pandangan Gapki secara nasional yang menilai karhutla merupakan persoalan kompleks dan tidak dapat dikaitkan secara eksklusif dengan perkebunan kelapa sawit.
Dalam rilis 28 Agustus 2026, Gapki menyebut karhutla dipengaruhi berbagai faktor, mulai aktivitas manusia, cuaca ekstrem, musim kemarau panjang, perubahan iklim, karakteristik vegetasi hingga pengelolaan lahan.
“Karena itu, mengaitkan Karhutla secara langsung dan eksklusif dengan perkebunan kelapa sawit tidak mencerminkan kompleksitas persoalan yang sebenarnya,” tulis Gapki.
Gapki mengacu pada data KLHK periode 2010–2022 yang menunjukkan karhutla terjadi hampir di seluruh provinsi Indonesia. Sejumlah daerah non-sentra sawit juga mengalami kebakaran dalam skala signifikan.
Baca Juga: Kabut Asap Makin Pekat di Kutai Barat, ISPU Tembus 138 dan Sekolah Terapkan Belajar dari Rumah
Gapki juga mengutip kajian berbasis citra satelit yang menyebut sekitar 86 persen titik api pada karhutla 2015 berada di luar konsesi perkebunan kelapa sawit. Pada 2019, angkanya disebut mencapai sekitar 89 persen.
Meski demikian, Gapki mengakui perkebunan sawit juga dapat terdampak karhutla. Kebakaran dan asap dapat mengganggu operasional, menurunkan produktivitas tanaman serta meningkatkan biaya pengendalian.
Di Kaltim, Wakil Sekretaris Gapki Kaltim Nofriansyah menambahkan, kemarau panjang dan kondisi iklim juga berpotensi memengaruhi produksi CPO.
Pemulihan produksi setelah kondisi kembali normal tidak dapat berlangsung instan karena tanaman membutuhkan waktu untuk kembali ke kondisi optimal.
“Setelah ini normal kembali kita butuh waktu untuk recovery, untuk normalisasi, untuk bisa mengembalikan produksi CPO kembali seperti semula,” pungkasnya. (rd)
Editor : Romdani.