Luas Karhutla di Samarinda Capai 192 Hektare, Andi Harun Sebut Ada Dugaan Kesengajaan

M Hafiz Alfaruqi • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 15:22 WIB
MERESAHKAN: Kebakaran lahan menghanguskan sekitar 7 hektare lahan di kawasan Pelita 8, Kecamatan Sambutan, Samarinda, Selasa (25/8). IST/KP
MERESAHKAN: Kebakaran lahan menghanguskan sekitar 7 hektare lahan di kawasan Pelita 8, Kecamatan Sambutan, Samarinda, Selasa (25/8). IST/KP

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Samarinda terus bertambah di tengah kemarau dan fenomena El Nino. Pemkot Samarinda menduga sebagian besar kejadian kebakaran bukan bukan dipicu faktor alam, melainkan akibat ulah oknum yang sengaja membakar lahan.

Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda per 29 Agustus 2026, tercatat 117 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 192,50 hektare.

Wali Kota Samarinda Andi Harun mengatakan, Samarinda kini berada dalam status siaga karhutla. Ia menyebut, mayoritas kebakaran lahan yang terjadi diduga bukan dipicu faktor alam.

"Status Kota Samarinda sudah berada di posisi siaga soal kebakaran hutan dan lahan. Tetapi perlu diketahui bahwa mayoritas lahan yang terbakar itu tidak terbakar secara alami. Mayoritas dilakukan oleh oknum-oknum yang secara sengaja melakukan perbuatan itu," ujar Andi Harun.

Baca Juga: Pupuk Bersubsidi di Kaltim Harus Diawasi, Pemuda Didorong Jadi Penggerak Ketahanan Pangan

Dugaan pembakaran secara sengaja tersebut kini ditindaklanjuti aparat kepolisian. Andi menyebut sekitar lima hingga enam orang telah diperiksa secara intensif di Polresta Samarinda terkait dugaan pembakaran lahan.

"Kalau saya tidak salah, sudah ada kurang lebih lima sampai enam orang yang secara intensif diperiksa di Polresta Samarinda. Ada beberapa yang kita tangkap melalui CCTV," katanya.

Menurut Andi, keberadaan CCTV membantu pemerintah dan aparat dalam melakukan identifikasi awal terhadap dugaan pelaku. Jaringan kamera pengawas tersebut tersebar di sejumlah lingkungan permukiman melalui Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat (Probebaya).

Jaringan CCTV di Samarinda saat ini hampir mencapai 200 unit. Rekaman kamera tersebut dapat digunakan untuk menelusuri aktivitas mencurigakan di sekitar lokasi kejadian.

Baca Juga: Ketahanan Pangan Kaltim Hadapi Tantangan IKN, Empat Pilar Diminta Bergerak Bersama

"Ini bersyukurnya melalui program Probebaya di kampung-kampung ada CCTV. Sehingga kita bisa menangkap melalui kamera kita, termasuk jaringan CCTV yang hampir 200 unit tersebar di Samarinda, sehingga bisa melakukan identifikasi awal terhadap dugaan pelaku pembakaran lahan itu," jelasnya.

Meningkatnya kasus karhutla juga mendorong Pemkot Samarinda memperkuat pengawasan di tingkat lingkungan. AH meminta masyarakat tidak hanya mengandalkan patroli pemerintah, TNI, dan Polri, tetapi turut aktif mengawasi wilayah masing-masing.

"Karena itu kami mengimbau kesadaran yang sangat tinggi tidak hanya dari pemerintah, TNI, dan Polri yang bisa mengawasi. Mari patrolinya ditingkatkan di level masyarakat," tuturnya.

Menurutnya, masyarakat memiliki posisi strategis karena berada langsung di lingkungan masing-masing. Patroli warga secara rutin dinilai dapat mempercepat deteksi apabila terdapat aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.

"Kalau pemerintah, TNI, dan Polri mungkin ketika patroli habis pulang, bisa dilakukan lagi. Tapi kalau sudah masyarakat yang melakukan patrolinya secara 24 jam, terutama masyarakat yang ada di lingkungan masing-masing, insyaallah kita bisa mengendalikan terus keadaan ini," pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
karhutla Samarinda kebakaran lahan Samarinda karhutla Samarinda 2026 pembakaran lahan Samarinda andi harun