Sawah Mengering, Kaltim Belum Mampu Swasembada Beras, Defisit Mencapai 189 Ribu Ton

Ainur Rofiah • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 14:19 WIB
Pertanian
Pertanian

KALTIMPOST.ID-Kemampuan Kaltim memenuhi keperluan beras secara mandiri masih terbatas. Produksi beras daerah disebut baru mampu mencukupi sekitar 43 persen keperluan masyarakat. Ketergantungan terhadap pasokan dari luar Kaltim pun masih tinggi.

Pengamat pertanian dari Universitas Mulawarman (Unmul) Prof Rusdiansyah menilai kondisi sektor pangan Kaltim saat ini perlu mendapat perhatian serius. Terlebih, produksi beras lokal masih jauh di bawah kebutuhan masyarakat.

“Kalau kita bicara tentang pertanian Indonesia, khususnya pertanian Kaltim, kalau saya katakan dalam tanda petik, tidak dalam keadaan yang baik-baik saja,” ujar Rusdiansyah, Senin (31/8).

Dengan jumlah penduduk sekitar 4,1 juta jiwa, dia menyebut produksi beras Kaltim pada 2025 tercatat sekitar 176.039 ton. Sementara kebutuhan daerah mencapai sekitar 365 ribu ton.

“Dengan produksi sekitar 176 ribu ton tahun 2025, kita hanya mampu memenuhi sekitar 43 persen penduduk Kaltim. Artinya, kita masih kekurangan sekitar 189.411 ton,” bebernya.

Baca Juga: 1.000 Runner Tumpah di Sepinggan Pratama, Sebaru Fun Run 5K Balikpapan Berlangsung Meriah

Kesenjangan antara produksi dan kebutuhan tersebut membuat Kaltim masih harus mengandalkan beras dari luar daerah. Rusdiansyah juga menyoroti ketersediaan stok beras Bulog yang menurutnya berada di kisaran 128 ton.

Tantangan ketahanan pangan berpotensi semakin besar akibat perubahan kondisi iklim. Kemarau panjang dan ancaman El Nino dinilai dapat menekan produktivitas pertanian pada musim tanam tahun ini.

“Kalau kita lihat dengan kondisi iklim seperti sekarang, dengan kemarau panjang, saya kira sampai Desember pun belum selesai, belum berakhir. Saya yakin produktivitas pada musim tanam, di musim kering ini akan mengalami penurunan mungkin sekitar 20 sampai 30 persen,” ujarnya.

Jika penurunan tersebut terjadi, kesenjangan antara produksi lokal dan keperluan konsumsi berpotensi semakin melebar. Kondisi itu sekaligus memperbesar tantangan Kaltim untuk mengurangi ketergantungan pangan terhadap daerah pemasok.

Rusdiansyah menilai persoalan pangan memerlukan penanganan bersama, terutama untuk menjaga produksi sekaligus mengantisipasi gangguan pasokan akibat kondisi iklim.

“Banyak masalah sebenarnya yang harus menjadi bahan pemikiran kita bersama untuk mengatasi kebutuhan pangan kita. Tapi kalau kita mau bicara apakah Kaltim mampu berswasembada pangan, dalam tanda petik, saya kira belum,” pungkasnya. (rd)

Editor : Romdani.
Komjen Fadil Imran letjen lucky avianto swasembada beras ibu kota nusantara Pertanian Kaltim