Tersisa 2 Ekor di Dunia, BKSDA Kaltim Siapkan Pengembangbiakan Buatan Badak Kalimantan

Eko Pralistio • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 07:16 WIB
Penampakan badak Kalimantan betina salah satu dari dua individu terakhir yang masih tersisa di dunia.
Penampakan badak Kalimantan betina salah satu dari dua individu terakhir yang masih tersisa di dunia.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Populasi badak Kalimantan berada di ambang kepunahan. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur menyebut hanya dua individu badak Kalimantan yang masih hidup dan teridentifikasi. Keduanya merupakan betina.

Kepala BKSDA Kaltim Ari Wibawanto mengatakan, satu individu bernama Badak Pahu kini dirawat di Suaka Badak Kelian Lestari, Kutai Barat. Sementara satu lainnya, Badak Pari, masih berada di habitat alaminya di Mahakam Ulu. "Badak Kalimantan itu hanya ada di Kaltim dan hanya sebanyak dua individu. Sampai sekarang belum menemukan badak yang lain," kata Ari, Jumat (4/8).

Keberadaan Badak Pari di alam selama ini dipantau menggunakan camera trap. BKSDA mengeklaim telah mendapatkan foto dan video yang memastikan keberadaan satwa tersebut. Menurut Ari, kondisi kedua badak yang sama-sama betina membuat upaya pengembangbiakan menjadi mendesak. Sebab, populasi badak Kalimantan di wilayah lain, termasuk Malaysia, disebut sudah tidak ditemukan lagi.

Baca Juga: Buka Suara Soal TPP ASN Menunggak, RSUD AWS Tegaskan Anggaran Bukan Pengelolaan Mandiri

"Karena kita hanya bisa menemukan dua individu yang masih hidup dan itu betina semua, maka jika kita tidak melakukan apa-apa, maka akan terjadi kepunahan terhadap badak Borneo," ujarnya.

Manfaatkan Badak Sumatera

BKSDA melihat peluang pengembangbiakan melalui badak Sumatera. Secara taksonomi, badak Kalimantan masih berada dalam satu spesies dengan badak Sumatera sehingga memungkinkan penggunaan sperma badak Sumatera dalam program reproduksi.

Namun, perkawinan secara alami dinilai memiliki tantangan karena terdapat perbedaan morfologi dan ukuran tubuh antara badak Kalimantan dan badak Sumatera. Karena itu, salah satu opsi yang disiapkan adalah teknologi reproduksi berbantuan. Sel telur badak Kalimantan akan diambil, kemudian dibuahi menggunakan sperma badak Sumatera untuk menghasilkan embrio.

"Jadi sel telur dari badak Kalimantan itu diambil ke luar, kemudian disuntik dengan sperma badak Sumatera. Dijadikan embrio di luar kandungan," jelas Ari. Teknologi tersebut sebelumnya telah dicoba terhadap Badak Pahu. Proses pengembangbiakan dengan metode tersebut telah dilakukan tiga kali, namun belum berhasil menghasilkan individu baru.

Kondisi Pahu yang sudah tua menjadi salah satu tantangan. Ari menyebut gigi Pahu sudah rata dan terdapat sejumlah masalah kesehatan, termasuk kista. "Kalau tidak dilakukan, ya sudah. Sudah selesai. Tapi kan kita tidak boleh begitu. Kita manusia harus berusaha," tegasnya.

Baca Juga: Karhutla Kaltim Melonjak 3.131 Hektare di Agustus, BPBD Usulkan Operasi Udara Ke BNPB

 

Pahu Akan Dipindahkan

BKSDA berencana melakukan kembali proses pengambilan sel telur Pahu. Untuk itu, Pahu harus ditangkap dan dipindahkan ke fasilitas konservasi di Kelian agar dapat menjalani perawatan sekaligus program pengembangbiakan.

Ari mengatakan, rencana tersebut telah disosialisasikan kepada berbagai pihak, mulai dari tingkat kampung, kecamatan, kabupaten hingga provinsi. Akademisi dan organisasi yang bergerak di bidang konservasi juga dilibatkan.

Menurutnya, target utama bukan sekadar menyelamatkan Pahu dari habitatnya, tetapi menghasilkan individu baru badak Kalimantan. "Tujuan besarnya adalah pengembangbiakan. Dengan kata lain, tidak hanya masalah evakuasi, tapi masalah penyelamatan badak Kalimantan," katanya.

Baca Juga: Gubernur Rudy Mas'ud Dorong KONI Kaltim Gandeng Swasta Lewat CSR, Tegaskan Keuangan Harus Transparan

BKSDA juga menyiapkan fasilitas pedok baru seluas sekitar 20 hektare untuk mendukung proses tersebut. Pedok akan dibagi menjadi dua bagian agar satwa dapat ditempatkan secara terpisah.

Untuk proses evakuasi, sejumlah kebutuhan juga telah disiapkan, termasuk perangkap dan helikopter. Seluruh tahapan akan mengikuti standar operasional prosedur, mulai dari pembiusan hingga pengangkutan satwa.

Di sisi lain, BKSDA tidak ingin penyelamatan Badak Pari justru berujung pada hilangnya habitat alaminya. Ari mengatakan terdapat kekhawatiran bahwa kawasan yang saat ini menjadi habitat Pari akan dirambah untuk perkebunan sawit maupun pertambangan jika satwa tersebut nantinya dipindahkan.

Karena itu, BKSDA mengusulkan sekitar 60 ribu hektare kawasan di habitat Badak Pari menjadi area konservasi. "Kita pegang dulu, untuk memberikan peluang dia menghasilkan anak. Itu dulu," ujarnya.

Ari mengatakan, masyarakat Mahakam Ulu juga menginginkan apabila program pengembangbiakan berhasil, individu baru badak Kalimantan nantinya dapat dikembalikan ke Mahakam Ulu. Namun, hal tersebut bergantung pada kondisi habitat yang harus tetap terjaga. "Kita cuma punya dua di dunia dan hanya di Kaltim. Cuma apa lagi yang harus kita lakukan?" kuncinya. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
Badak Kalimantan Punah Badak Pahu dan Pari BKSDA Kaltim badak kalimantan