LAPSUS: Cuma Puluhan Meter dari Kilang Pertamina, Warga Balikpapan Antre Pertalite Nyaris 1 Km

Ainur Rofiah • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 07:08 WIB
Kendaraan antre pertalite di SPBU Karang Anyar yang lokasinya dekat dengan Kilang Pertamina Balikpapan. (FOTO FUAD MUHAMMAD/KP)
Kendaraan antre pertalite di SPBU Karang Anyar yang lokasinya dekat dengan Kilang Pertamina Balikpapan. (FOTO FUAD MUHAMMAD/KP)

KALTIMPOST.ID-Di bawah sengatan terik matahari pesisir, deretan kendaraan merayap lambat dan mengular hingga nyaris satu kilometer di depan SPBU Karang Anyar, Balikpapan, Sabtu (5/9).

Ironisnya, pemandangan menyesakkan dada itu terjadi hanya selemparan batu dari instalasi raksasa Kilang Pertamina yang saban hari memproduksi bahan bakar minyak untuk negeri.

Suara dengung mesin motor yang sesekali mati dihidupkan bersahut-sahutan dengan derit rem angkutan kota.

Puluhan pengemudi ojek online, sopir angkot, hingga warga biasa duduk tersandar pasrah di atas jok kendaraan masing-masing.

Baca Juga: Aturan Pembelian BBM Bersubsidi di SPBU di Balikpapan Berubah, Ini Poin Perubahannya…

Peluh membasahi dahi para pencari nafkah itu, yang terpaksa membuang waktu produktif berjam-jam demi mendapatkan bahan bakar minyak bersubsidi jenis pertalite.

Alasan utama di balik kesabaran tanpa batas itu berpangkal pada jurang disparitas harga yang teramat lebar.

Saat ini, pertamax dibanderol seharga Rp 16.300 per liter. Sementara pertalite masih dipatok pada angka Rp 10.000 per liter. 

Selisih Rp 6.300 per liter menjadi angka yang sangat berharga bagi kalangan pekerja jalanan, di mana setiap rupiah pengeluaran menentukan sisa dapur yang bisa mengepul di rumah.

Jarak SPBU Karang Anyar dengan kawasan kilang minyak Balikpapan hanya terpaut puluhan meter.

Dari titik antrean, pipa-pipa baja besar dan menara distilasi tampak berdiri kokoh menjulang ke angkasa. 

Namun, kedekatan geografis dengan pusat pengolahan emas hitam itu seolah tidak memberi privilese apa pun bagi warga sekitar yang tetap harus bertarung mendapatkan jatah subsidi harian.

Baca Juga: Kabut Asap Karhutla Ancam Kaltim, Pakar Ingatkan Jangan Tunggu Rumah Sakit Penuh Baru Bertindak

Pemandangan semacam itu bukan barang baru kemarin sore. Saban hari, dari pagi hingga petang, barisan kendaraan roda dua dan roda empat terus memanjang tanpa henti.

Di antara barisan pekerja harian yang jujur mengantre demi mencari nafkah, aroma kecurangan juga kerap tercium lewat dugaan hadirnya para pengetap BBM bersubsidi.

Praktik membeli secara berulang demi menjual kembali dalam wadah eceran ditengarai ikut memperkeruh kondisi dan membuat antrean kian panjang.

Pemkot Balikpapan sejatinya telah berupaya mengurai benang kusut ini dengan memberlakukan regulasi pembatasan jam pembelian pertalite di sejumlah SPBU.

Kendati demikian, aturan di atas kertas tersebut nyatanya belum mampu membendung laju kendaraan yang terus menumpuk di tepi jalan protokol.

Potret panjang antrean BBM di Karang Anyar menegaskan ironi klasik yang sudah mengakar bertahun-tahun di Kaltim.

Sebagai wilayah lumbung energi nasional, masyarakat di Kota Minyak justru masih harus bergulat dengan waktu dan rasa lelah di jalanan, sekadar menanti giliran selang bensin menghampiri tangki kendaraan mereka.

Dari pengamatan Kaltim Post, antrean didominasi angkutan kota (angkot). Dalam satu malam, sedikitnya 10 hingga 11 angkot terlihat mengantre secara beruntun.

Barisan kendaraan bahkan meluber hingga bahu jalan dengan panjang mencapai sekitar 200 meter.

Kondisi serupa juga terlihat pada pagi hari. Antrean kembali memadati SPBU dan membuat pengendara harus menghabiskan waktu sebelum bisa mendapatkan BBM.

Baca Juga: Asap Karhutla Ancam Pekerja Luar Ruang di Kaltim, Kata Pakar Pakai Masker Saja Tak Cukup

Romi, pengendara Daihatsu Sigra, mengaku sudah sekitar 20 menit menunggu. Namun, saat ditemui, kendaraannya bahkan belum berhasil masuk ke area SPBU. “Ya sudah 20 menit-an ‘lah, baru mau masuk ke area SPBU ini,” ujar Romi.

Menurut Romi, pemerintah semestinya mempertimbangkan penambahan SPBU. Terlebih, Balikpapan dikenal sebagai Kota Minyak dan memiliki industri migas yang besar. “Masa kota minyak antreannya begini,” katanya.

Bagi pengendara ojek online (ojol) Arif, persoalan itu bukan hanya soal waktu menunggu. Antrean BBM juga dapat mengganggu waktu kerjanya.

Arif mengaku antrean seperti itu ditemuinya baik pada malam maupun pagi hari. Waktu yang seharusnya digunakan untuk mengantar pesanan harus terpotong karena menunggu di tengah barisan kendaraan yang mengular.

Ia bahkan pernah menyalakan layanan saat masih mengantre. “Kadang lama antar orderan ya karena antrean ini, pernah saya dikasih bintang 1 sama customer,” ujar Arif.

Menurutnya, antrean panjang membuat waktu pengantaran menjadi tidak menentu. Ia juga heran kondisi tersebut terjadi di Balikpapan yang dikenal sebagai Kota Minyak. (rd)

Editor : Romdani.
spbu 24 jam ibu kota nusantara Pertalite langka solar bersubsidi antrean bbm