Bertahun-tahun Keliru, PBB Akhirnya Resmi Ganti Peta Dunia

Ari Arief • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 14:23 WIB
Peta Proyeksi Mercator yang umum dipakai saat ini.(BardoczPeter/Getty Images)
Peta Proyeksi Mercator yang umum dipakai saat ini.(BardoczPeter/Getty Images)

KALTIMPOST.ID,NEW YORK-Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) resmi mengadopsi peta dunia baru yang mencerminkan ukuran negara secara sebenarnya. Keputusan ini diambil usai pemungutan suara atas resolusi "Perbaiki Peta" yang didorong oleh negara-negara anggota Uni Afrika dan Bahama.

Resolusi tersebut disahkan dengan dukungan mutlak. Sebanyak 164 negara anggota menyatakan setuju, enam negara memilih abstain, dan hanya Amerika Serikat yang menentang.

Baca Juga: Kualitas Udara Samarinda Masih Kategori Sedang, Diskes Pantau Tren ISPA

Langkah ini bertujuan memberikan representasi yang adil bagi wilayah-wilayah di dunia, terutama Benua Afrika. Selama ini, distorsi pada peta lama dinilai membuat wilayah Afrika, Amerika Latin, dan Asia Selatan mengalami pengecilan simbolis yang memengaruhi persepsi global.

Sebagian besar peta yang digunakan saat ini berbasis pada Proyeksi Mercator ciptaan pembuat peta asal Eropa, Gerardus Mercator, pada 1569. Meski berguna untuk navigasi, skala peta ini terdistorsi karena memperbesar wilayah yang jauh dari garis khatulistiwa secara tidak proporsional.

Baca Juga: Cara Cek dan Mengubah Desil DTSEN Online Lewat HP Tanpa Ke Kelurahan

Sebagai contoh, pada Proyeksi Mercator, Greenland tampak setara dengan Benua Afrika. Padahal secara realitas, Afrika berukuran 14 kali lebih besar dari Greenland, sementara luas Greenland sebenarnya hampir sama dengan Republik Demokratik Kongo.

Dalam resolusinya, PBB mencatat bahwa distorsi ukuran ini berdampak serius. Ketidakakuratan tersebut dinilai mengerdilkan realitas sosial-ekonomi, kebutuhan infrastruktur, potensi pembangunan, hingga memicu prasangka geopolitik bagi negara-negara di belahan bumi selatan.

Baca Juga: Imbas Erupsi Anak Krakatau, Maskapai Refund 100 Persen Tiket Penumpang di Kaltim

Sebagai gantinya, PBB mengusulkan penggunaan proyeksi Equal Earth (Bumi Setara) yang diperkenalkan sejak 2018. Proyeksi baru ini menggambarkan luas permukaan dunia secara jauh lebih akurat, di mana ukuran Afrika dan Brasil terlihat lebih besar, sementara Eropa dan Greenland menyusut ke skala sebenarnya.

Dukungan juga datang dari Prancis. Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, memastikan negaranya akan meninggalkan Proyeksi Mercator.

Baca Juga: Informasi Penerimaan Siswa Baru SMA Taruna Nusantara TA 2027/2028: Syarat Nilai dan Dokumen

"Amerika Serikat, Rusia, dan China mendapatkan penonjolan visual yang tidak proporsional dibanding Afrika, Amerika Latin, atau Asia Tenggara," ujar Barrot.

Selain mengimbau negara anggota, draf resolusi PBB ini juga mendesak platform teknologi global dan penyedia peta digital—seperti Google Maps—untuk mulai berdiskusi dan mengadopsi proyeksi baru yang lebih akurat.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
peta bumi pbb