Serap Ratusan Ribu Tenaga Kerja, Disbun Kaltim Ingatkan Karhutla Bisa Ancam Keberlanjutan Sawit

Ainur Rofiah • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 19:43 WIB
Pekerja sawit
Pekerja sawit

KALTIMPOST.ID-Sektor perkebunan kelapa sawit terus memegang peran strategis sebagai motor penggerak baru perekonomian Kaltim di tengah upaya beralih dari sektor ekstraktif.

Kendati menyimpan potensi ekonomi yang sangat besar, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi tantangan nyata yang harus dicegah secara terpadu.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim Arief Murdiyatno mengungkapkan bahwa kelapa sawit sampai saat ini masih menjadi komoditas primadona, baik bagi pekebun swadaya masyarakat maupun perusahaan swasta berskala besar.

“Kita harapkan ke depan terus menjadi primadona karena peluang dan tantangannya luar biasa,” ujar Arief, Minggu (6/9).

Baca Juga: Kabut Asap Karhutla Makin Pekat di Kaltim, Siswa SD Dinilai Perlu Belajar Daring

Berdasarkan data Disbun Kaltim, luasan perkebunan kelapa sawit di Benua Etam kini telah mencapai kisaran 1,5 juta hektare. Luasan tersebut mencakup perkebunan rakyat, perkebunan perusahaan swasta, hingga kemitraan lewat skema plasma.

Sektor perkebunan sawit ini tercatat menyerap sekitar 238 ribu tenaga kerja dan memberikan sumbangsih signifikan terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) daerah.

Menurut Arief, sawit memiliki peran penting dalam peta jalan transformasi ekonomi daerah.

“Komoditas kelapa sawit ini juga merupakan salah satu komoditas yang digadang-gadang menjadi motor penggerak transformasi perekonomian kita, dari perekonomian yang mengandalkan faktor ekstraktif menuju sektor yang lebih berkelanjutan,” jelasnya.

Peluang pasar sawit juga dinilai kian menjanjikan seiring langkah pemerintah mendorong pemanfaatan minyak sawit untuk ketahanan energi nasional, salah satunya lewat agenda penerapan program biodiesel B50.

Di balik kontribusi ekonominya yang gemilang, Arief mengingatkan bahwa risiko karhutla di sekitar kawasan perkebunan tetap menjadi ancaman serius.

Baca Juga: LAPSUS: Jangan Hanya Atur Antrean Pertalite di SPBU tapi Temukan Penyebab dan Benahi Distribusinya

Jika kebakaran melanda lahan perkebunan, dampaknya langsung memukul produktivitas tanaman dan mengganggu pendapatan para petani serta operasional perusahaan.

“Jangan sampai dengan kejadian-kejadian ini akan mengganggu unit-unit budidaya kita sehingga tingkat perekonomian daripada pekebun masyarakat dan juga perusahaan bisa terganggu,” tegasnya.

Menyikapi kerawanan tersebut, Disbun Kaltim menitikberatkan strategi pada langkah pencegahan dini sebelum api membesar dan masuk ke tahap pemadaman.

Penanganan kebakaran lahan tidak bisa dibebankan kepada satu instansi saja, melainkan membutuhkan kepedulian bersama dari seluruh pemangku kepentingan.

“Itu memerlukan kolaborasi bersama. Kalau dari sisi kami memang kita berupaya untuk mengedepankan pencegahan,” kata Arief.

Selain mengawal keberlanjutan kelapa sawit, Disbun Kaltim juga terus menggenjot diversifikasi komoditas perkebunan bernilai ekonomi tinggi lainnya.

Komoditas seperti kakao, karet, kelapa dalam, lada, hingga aren terus dikembangkan agar pekebun Kaltim memiliki sumber pendapatan yang beragam dan berkelanjutan. (rd)

Editor : Romdani.
karhutla Kaltim letjen lucky avianto ibu kota nusantara kelapa sawit kebakaran hutan dan lahan