KALTIMPOST.ID-Keberadaan angkutan kota (angkot) yang berderet mengantre pertalite pada malam hari di sejumlah SPBU Balikpapan mengundang tanda tanya warga.
Pasalnya, kendaraan angkutan umum tersebut dinilai semakin jarang terlihat membawa penumpang pada siang hari.
Pemandangan itu antara lain terlihat di sekitar SPBU MT Haryono dan Karanganyar. Ketika malam tiba, sejumlah angkot justru berjejer menunggu giliran mendapatkan BBM bersubsidi.
Fenomena tersebut terjadi di tengah kebijakan Pemkot Balikpapan yang mengatur waktu penyaluran pertalite berdasarkan jenis kendaraan sejak 1 September 2026.
Baca Juga: Erupsi Kembali Ganggu Penerbangan Samarinda-Jakarta, Empat Flight Batal dan 600 Penumpang Terdampak
Khusus SPBU MT Haryono dan Sepinggan, kendaraan roda dua dilayani pukul 06.00–22.00 Wita.
Sementara kendaraan roda empat mendapatkan giliran pukul 22.00–06.00 Wita dan dilarang mengantre sebelum jam pelayanan dimulai.
Ketentuan pembagian waktu tersebut tidak berlaku di SPBU Karanganyar. Namun, antrean angkot pada malam hari juga terlihat di lokasi tersebut.
Sigid, pemilik warung makan di sekitar SPBU MT Haryono, mengaku heran. Berdasarkan pengamatannya, keberadaan angkot pada siang hari tidak sebanyak kendaraan yang terlihat mengantre ketika pelayanan pertalite untuk roda empat dibuka.
“Coba sekarang kita lihat aja di jalanan ini, ada enggak angkot yang narik?” ujarnya, Senin (7/9).
“Tapi di saat SPBU pertalite dibuka, didominasi sama mereka semua. Ya itu sudah rahasia umum,” lanjutnya.
Menurut Sigid, pengaturan waktu pengisian memberikan dampak positif terhadap aktivitas usaha karena antrean pada siang hari tidak lagi banyak menutup akses warung.
Baca Juga: Kemarau Panjang Ancam 70 Hektare Lahan Pertanian Samarinda, 100 Petani Terancam Gagal Panen
Namun, ia menyoroti kendaraan roda empat yang disebut sudah berada di sekitar SPBU sejak sore, meski terdapat larangan mengantre sebelum waktu pelayanan.
Sorotan serupa disampaikan Arul, warga sekitar SPBU Karanganyar. Ia mempertanyakan banyaknya angkot yang mengantre pertalite pada malam hari dibandingkan keberadaannya di jalan saat siang.
“Saya bingung mereka ini ngisi sampai mengantre gitu buat apa, sedangkan di jalan jarang saya lihat ada penumpang,” katanya.
Arul juga mengaku pernah melihat angkot mengganti pelat nomor di pinggir jalan. “Pernah juga saya lihat ganti pelat di pinggir jalan,” ujarnya.
Keterangan warga tersebut belum serta-merta membuktikan adanya penyalahgunaan pertalite.
Namun, fenomena itu memperlihatkan pentingnya pengawasan penyaluran BBM bersubsidi, termasuk terhadap pola dan frekuensi pembelian kendaraan.
Terlebih, antrean pertalite masih menjadi persoalan di Balikpapan. Warga berharap pengawasan diperkuat agar BBM bersubsidi tepat sasaran sekaligus memastikan antrean tidak mengganggu lalu lintas dan aktivitas usaha di sekitar SPBU. (rd)
Editor : Romdani.