Asap Kiriman Karhutla Kepung Balikpapan, BMKG Sebut Sumbernya dari Paser hingga Kalsel

Dina Angelina • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 19:33 WIB
Kabut asap menyelimuti kawasan pesisir Klandasan, Balikpapan, membuat gedung-gedung di sepanjang garis pantai terlihat samar. (FOTO ANGGI PRADITHA/KP)
Kabut asap menyelimuti kawasan pesisir Klandasan, Balikpapan, membuat gedung-gedung di sepanjang garis pantai terlihat samar. (FOTO ANGGI PRADITHA/KP)

KALTIMPOST.ID-Fenomena kabut asap melanda langit Kota Balikpapan selama tiga hari terakhir. Sejak subuh, warga mulai mencium aroma sangit.

Indeks kualitas udara dan polusi PM2.5 di Kota Minyak ini sempat mencatat angka 110 atau masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif pada Kamis (17/9) pagi, sebelum membaik ke angka 95 (kategori sedang) pada sore hari.

​BMKG memastikan fenomena tersebut merupakan asap kiriman, bukan kabut alami (fog/mist).

Hal itu merujuk pada pengamatan cuaca di Stasiun Meteorologi SAMS Sepinggan yang menunjukkan kriteria pembentukan kabut alami tidak terpenuhi, ditambah potensi hujan yang masih rendah.

Baca Juga: Menteri Keuangan Berganti, Bagaimana Nasib Tambahan TKD Rp 90 Triliun dan Jatah Kaltim?

​Ketua Tim Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan Huda Abshor Mukhsinin menjelaskan bahwa tren kualitas udara sangat bergantung pada kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah sekitar.

​“Karena ini merupakan asap kiriman dari wilayah lain. Arah angin dominan dari barat daya dengan kecepatan yang cukup kencang di lapisan 500 feet yang diprediksi mencapai 10-20 knot,” ungkap Huda.

​Ia menambahkan, asap tersebut kemungkinan besar berasal dari Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, serta Paser yang lebih dekat dengan Balikpapan. “Paser memiliki hotspot level high, ada dugaan asap ini juga sampai ke area IKN,” sebutnya.

Wilayah Paser mencatatkan tingkat kepercayaan (confidence level) tinggi atau terdeteksi memiliki titik api yang lebih banyak dibanding Balikpapan.

Pergerakan angin dari arah tenggara hingga utara berpotensi membawa akumulasi asap masuk ke Balikpapan dan sekitarnya.

​“Biasanya (penumpukan asap) tinggi malam hingga pagi hari karena inversi suhu dan angin lemah. Sedangkan siang hari agak lebih baik karena mixing vertikal lebih kuat,” tambah Huda.

​Berdasarkan data BMKG Kaltim hingga Kamis (17/9) pukul 17.00 Wita, terdeteksi total 137 titik panas (hotspot) di Kaltim.

Baca Juga: Wushu Balikpapan Siapkan 11 Atlet ke Porprov VIII Kaltim, Tiga Atlet Taolu Bidik Emas

Sebaran terbanyak berada di Berau dengan 81 titik, disusul Paser 40 titik, Kutai Timur 12 titik, dan Kutai Kartanegara 4 titik.

​Meski kualitas udara sempat menurun, BMKG mencatat jarak pandang (visibility) sejauh ini masih tergolong aman untuk aktivitas penerbangan maupun lalu lintas pelayaran.

BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah yang tidak diperlukan, terutama saat kualitas udara berada di kategori tidak sehat.

​“Kelompok masyarakat yang sensitif terhadap kualitas udara lebih memerhatikan kondisi lingkungan sebelum melakukan aktivitas di luar rumah,” tutur Huda.

Masyarakat juga disarankan menggunakan masker jika harus beraktivitas di luar ruangan. Selain itu, pengguna jalan diminta meningkatkan kewaspadaan, sementara pengguna jasa penerbangan diimbau terus memantau informasi terkini dari pihak bandara dan BMKG. (rd)

Editor : Romdani.
karhutla Kaltim penajam paser utara ibu kota nusantara bandara sams Kutai Barat