KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Rencana masuknya kelompok usaha Haji Isam ke PT Bayan Resources Tbk (BYAN) memasuki babak baru. Perusahaan yang terafiliasi dengan Jhonlin Group disebut telah menyepakati pembelian lebih dari 10 miliar saham milik pengendali Bayan Resources.
Kesepakatan itu dituangkan dalam Conditional Share Sale and Purchase Agreement (CSPA) yang ditandatangani pada 16 September 2026. Pihak penjual adalah Low Tuck Kwong dan Elaine Low, sedangkan PT Jhonlin Baratama bertindak sebagai pembeli.
Dalam perjanjian tersebut, sebanyak 10.000.000.500 saham BYAN menjadi objek transaksi. Namun, pengalihan kepemilikan belum efektif karena masih harus menunggu sejumlah persyaratan yang telah disepakati kedua belah pihak.
Baca Juga: Jeritan Hati Istri Purbaya: "Emang Negara Kita Tidak Bisa Diperbaiki. Kebanyakan Orang Jahatnya"
Direktur Bayan Resources Jenny Quantero membenarkan adanya penandatanganan perjanjian tersebut melalui keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI).
Dengan jumlah saham yang mencapai lebih dari 10 miliar lembar, transaksi ini menjadi perkembangan penting dalam isu keterlibatan kelompok usaha Haji Isam di perusahaan batu bara tersebut. Sebelumnya, kabar mengenai rencana pengambilalihan saham BYAN oleh kelompok usaha yang dikaitkan dengan Haji Isam telah beredar di pasar.
PT Jhonlin Baratama sendiri merupakan perusahaan yang bergerak di sektor kontraktor pertambangan dan produksi batu bara. Perusahaan berbasis di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, dan berada dalam kelompok usaha Jhonlin Group.
Meski demikian, transaksi tersebut belum dapat disebut sebagai akuisisi yang telah rampung. Penyelesaian jual beli masih bergantung pada terpenuhinya seluruh kondisi pendahuluan dalam perjanjian.
Baca Juga: Defisit APBN Agustus 2026 Rp240,1 Triliun, Suahasil Nazara Ungkap Kondisi Keuangan Negara
Dari sisi perdagangan saham, BYAN mengakhiri sesi Kamis (17/9/2026) di level Rp11.525 per saham, naik 1,54 persen. Kendati demikian, dalam sepekan saham BYAN masih melemah 12,02 persen. Secara year to date (YTD), koreksinya mencapai 26,59 persen.
Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada pemenuhan persyaratan transaksi serta proses penyelesaian pengalihan saham tersebut.
Editor : Uways Alqadrie