KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Sungai Mahakam menjadi salah satu sumber air penting bagi masyarakat Kalimantan Timur. Selain menopang kebutuhan air baku, sungai terpanjang di Kaltim tersebut juga berkaitan dengan perikanan, irigasi hingga transportasi, namun debitnya ikut tertekan akibat minimnya curah hujan dalam kondisi El Nino saat ini.
Kepala BWS Kalimantan IV Andri Rachmanto Wibowo mengatakan, penurunan debit Sungai Mahakam bahkan mulai memicu masuknya air laut ke badan sungai atau intrusi air laut. Kondisi tersebut berdampak terhadap sejumlah titik pengambilan air baku Perumda Tirta Kencana Samarinda yang harus beroperasi terbatas ketika salinitas meningkat.
Baca Juga: Kekeringan Tekan Air Baku Samarinda, Debit Waduk Benanga Menipis Dekati Batas Kritis
“Karena curah hujan yang sangat sedikit, Sungai Mahakam juga lagi surut. Tidak terlalu besar debitnya sehingga yang tadinya menahan air laut, mulai masuk air laut,” kata Andri kepada Kaltim Post, Jumat (18/9).
Menurut Andri, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengembangan sumber dan tampungan air baku untuk menghadapi perubahan kondisi hidrologi. Salah satu potensi yang tengah menjadi perhatian adalah Sungai Boh, yang merupakan anak Sungai Mahakam dan masuk dalam rencana pengembangan bendungan untuk kebutuhan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), yakni Proyek Strategis Nasional PLTA Batoq Kelo (300 MW) yang membendung Sungai Boh, Kecamatan Sungai Boh, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.
“Kalau itu jadi, nanti ada air tertahan di situ. Salah satunya itu bisa menjadi potensi,” ujarnya.
Menurut Andri, wilayah Mahakam Hulu sebenarnya memiliki potensi air yang sangat besar karena curah hujan tahunannya relatif tinggi. Kondisi tersebut dapat menjadi modal dalam pengembangan infrastruktur sumber daya air, meski distribusi dan pengelolaannya membutuhkan perencanaan jangka panjang.
Baca Juga: Pemkot Samarinda Tetap Kebut Penataan Drainase dan Normalisasi Sungai
“Di Mahakam Ulu itu curah hujannya sekitar 3.700 milimeter per tahun. Padahal Indonesia ini rata-rata 2.000 sampai 2.200 milimeter,” jelasnya.
Andri juga menyebut pemerintah pusat tengah menyiapkan program berkelanjutan untuk pemeliharaan dan konservasi kawasan Danau Kaskade Mahakam. Hal itu disampaikannya setelah dirinya baru menerima wawancara dengan pihak pusat yang membahas rencana konservasi kawasan tersebut sebagai bagian dari pengelolaan sumber daya air di Kaltim.
“Keberadaan danau-danau tersebut dinilai penting dalam menjaga keseimbangan tata air di kawasan Mahakam, terutama ketika terjadi perubahan ekstrem antara musim hujan dan kemarau,” ucapnya.
Sebagaimana diketahui, Danau Kaskade Mahakam terdiri atas sekitar 20 danau, dengan tiga danau utama yakni Danau Jempang, Danau Semayang, dan Danau Melintang.
Selain mengoptimalkan sumber air permukaan, BWS Kaltim juga mendorong pemanfaatan air tanah dalam sebagai alternatif sumber air. Sumur tersebut dirancang mencapai kedalaman hingga sekitar 200 meter untuk mengambil air dari lapisan akuifer.
Menurut Andri, potensi air tanah ditentukan berdasarkan peta cekungan air tanah yang dimiliki Kementerian ESDM. Debit sumur dalam juga dinilai cukup besar dan kualitas air relatif baik dibandingkan sumur dangkal.
“Sumur air tanah kita ada di Kutai Timur, Bontang sembilan titik, Kutai Kartanegara 10 titik, Balikpapan, PPU dan Paser masing-masing ada delapan titik ,” tuturnya.
Menurut Andri, Samarinda juga berpeluang mengusulkan pembangunan sumur air tanah dalam kepada pemerintah pusat. BWS telah berkoordinasi dengan Pemkot Samarinda agar kebutuhan tersebut diusulkan, dengan pembiayaan pembangunan dapat bersumber dari APBN.
“Yang mengusulkan harus dari pemerintah daerah. Duitnya dari pemerintah pusat, dari APBN. Mudah-mudahan kita dapat dan itu bisa kita kerjakan,” pungkasnya. (*)
Editor : Duito Susanto