KALTIMPOST.ID, TENGGARONG - Untuk pertama kalinya masuk Karisma Event Nusantara, Erau membawa pesan “Raja Menunggal Bersama Rakyat, Raja Menjamu Rakyatnya” di tengah bayang kabut asap. Rangkaian utama berlangsung hingga 27 September menjelang Hari Jadi Kota Tenggarong.
Gong dipukul. Api brong menyala. Di lapangan Stadion Rondong Demang, warna-warni pakaian adat dan pertunjukan budaya memenuhi panggung pembukaan. Minggu, 20 September 2026, Erau Adat Kutai kembali dimulai di Tenggarong.
Seremoni di stadion berlangsung setelah rangkaian sakral lebih dahulu dimulai di lingkungan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Prosesi Pinang Ayu dan penyalaan brong menjadi bagian dari penanda awal rangkaian adat sebelum kegiatan bergeser ke pembukaan seremonial.
Pemukulan gong dan penyalaan brong kemudian kembali menjadi penanda dimulainya Erau secara seremonial. Erau tahun ini datang dengan status baru. Kementerian Pariwisata menetapkan Erau Adat Kutai sebagai salah satu dari 125 event dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2026.
Baca Juga: Erau Adat Kutai 2026 Resmi Dimulai, Bupati Kukar Singgung UMKM hingga Perjuangan Dana Kurang Salur
Dalam seremoni pembukaan disebutkan, 2026 menjadi kali pertama Erau masuk dalam agenda tersebut. KEN tahun ini mencakup 125 event dari 38 provinsi, dan Erau tercatat sebagai salah satu perwakilan Kalimantan Timur.
Namun panggung nasional itu hadir ketika Kutai Kartanegara baru melewati periode kabut asap akibat kemarau dan kebakaran hutan dan lahan. Persoalan kualitas udara pun ikut menjadi bagian dari perhatian selama rangkaian adat berlangsung.
Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri mengatakan Erau diselenggarakan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dengan dukungan pemerintah daerah.
“Tadi kita sampaikan, kita memulai prosesi acara Erau Adat Kutai tahun 2026. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dengan didukung penuh oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara,” kata Aulia seusai pembukaan.
Baca Juga: Buka Lahan Pakai Ban Bekas di Muara Jawa Kukar, Pria Paruh Baya Dibekuk Polisi
Menurut Aulia, Erau terdiri atas dua bagian besar, yakni kegiatan sakral dan seremonial. Rangkaian utama dijadwalkan berlangsung 20–27 September 2026 dan mencapai salah satu puncaknya melalui tradisi Belimbur.
“Kegiatan ini terlaksana mulai tanggal 20 sampai tanggal 27, di mana setiap harinya ada rangkaian-rangkaian kegiatan yang sudah ditetapkan. Nanti diakhiri dengan prosesi Belimbur,” ujarnya. Jadwal resmi Pemkab juga mencatat sejumlah rangkaian masih berlanjut hingga 28 September.
Raja Menjamu Rakyatnya
Di tengah skala penyelenggaraan yang membesar, tema Erau tahun ini justru menarik perhelatan kembali pada hubungan antara Kesultanan dan masyarakat. Tema “Raja Menunggal Bersama Rakyat, Raja Menjamu Rakyatnya” membawa pesan tentang kedekatan antara pemimpin dan masyarakat.
Dalam sambutannya, Aulia menyebut Erau tidak semestinya hanya dipandang sebagai pertunjukan tahunan. “Erau bukan sekadar pesta adat tahunan atau tontonan budaya semata. Erau adalah simpul warisan leluhur, fondasi identitas, dan mata rantai peradaban Kutai yang melintasi zaman,” katanya.
Aulia menghubungkan tema tersebut dengan tanggung jawab kepemimpinan. “Pernyataan bahwa raja menjamu rakyatnya mengingatkan kita bahwa pada hakikatnya kekuasaan mengandung tanggung jawab pelayanan,” ujarnya.
Pesan itu juga tergambar dalam sejumlah tradisi Erau. Melalui Beseprah, masyarakat duduk dan makan bersama tanpa memandang pangkat maupun kedudukan. Sementara Belimbur dimaknai sebagai penyucian diri sekaligus upaya mempererat persaudaraan.
Baca Juga: APBD Perubahan Samarinda 2026 Diproyeksi Defisit Rp600 Miliar, Pelunasan Utang Terancam Molor
Perspektif regenerasi budaya muncul dalam sambutan Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud yang dibacakan Plt. Asisten Administrasi Umum Setdaprov Kaltim Muhaimin.
Pemprov menempatkan generasi muda sebagai salah satu penentu keberlanjutan tradisi. Erau diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi ruang bagi anak muda untuk mengenal sejarah daerah, memahami adat, serta mempelajari kesenian dan bahasa lokal.
“Kalau bukan kita yang menjaga budaya kita, lalu siapa lagi. Dan kalau bukan generasi muda yang meneruskannya, kepada siapa warisan ini akan kita titipkan,” demikian bagian sambutan gubernur yang dibacakan Muhaimin.
Masuk KEN, Ditantang Datangkan Wisatawan
Masuknya Erau ke KEN membawa tuntutan yang lebih luas daripada sekadar memastikan seluruh prosesi berjalan. Kementerian Pariwisata menempatkan event dalam KEN sebagai penggerak kunjungan wisatawan dan ekonomi lokal.
Seleksi KEN mempertimbangkan antara lain konsep dan inovasi, pemasaran, manajemen kegiatan, pengelolaan keuangan hingga analisis dampak.
Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata Wilayah II Kementerian Pariwisata RI Dwi Marhen Yono mengatakan tantangan berikutnya bagi Erau adalah membuat event tersebut benar-benar menarik orang datang ke Kukar, tinggal lebih lama, dan mengeluarkan belanja di daerah.
“Event itu menjadi magnet untuk orang datang. Tinggal nanti PR-nya Pak Bupati, bagaimana mereka bisa lama dan menikmati indahnya budaya dan juga alam serta masyarakat Kutai Kartanegara,” kata Dwi.
Ia berharap peningkatan kualitas Erau dapat memperbesar kunjungan wisatawan dan memberi dampak ekonomi bagi daerah.
Baca Juga: Tren Belanja Bayar Nanti Melejit, Baki Debet Paylater Tembus Rp31,56 Triliun
“Harapan kami ke depan, Pak Bupati, ini adalah event yang berkualitas sehingga banyak wisatawan yang hadir. Mereka akan membelanjakan uangnya di Kutai Kartanegara dan mereka akan lama tinggal dan nginep di Kutai Kartanegara,” ujarnya.
Dwi juga melihat budaya sebagai salah satu modal yang dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata. Kuliner lokal, misalnya, menurut dia tidak hanya dapat dijual sebagai makanan, tetapi dikembangkan menjadi bagian dari perjalanan wisata agar pengunjung memiliki lebih banyak alasan untuk tinggal.
Pada level lokal, Aulia mengatakan UMKM turut dilibatkan dalam rangkaian Erau melalui expo dan kegiatan ekonomi di sekitar kawasan penyelenggaraan.
“UMKM banyak sekali yang terlibat di sana dan kita berharap ini menjadi bagian dari upaya kita meningkatkan daya beli masyarakat dan meningkatkan kualitas daripada UMKM kita,” katanya.
Baca Juga: Pertama di Kalimantan, RSUD IA Moeis Samarinda Buka Klinik Gagal Jantung Ditanggung BPJS
Pemkab sebelumnya juga menyebut dampak terhadap UMKM sebagai salah satu aspek yang diperhatikan setelah Erau masuk KEN. Selain itu, penyelenggara diminta memperhatikan kebersihan dan mitigasi risiko selama kegiatan.
Seberapa besar manfaat ekonomi Erau tahun ini masih perlu dilihat setelah rangkaian selesai. Belum tersedia data transaksi maupun nilai perputaran ekonomi selama Erau 2026.
Kabut Asap di Balik Perayaan
Di balik kemeriahan pembukaan, kondisi lingkungan tetap menjadi perhatian. Dalam sambutannya, Aulia menyinggung kemarau panjang dan karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan, termasuk Kukar, yang memunculkan kabut asap dan mengganggu aktivitas serta kesehatan masyarakat.
Ia meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar dan melapor apabila menemukan titik api. Pengunjung Erau juga diminta memperhatikan kualitas udara selama mengikuti rangkaian kegiatan.
“Gunakan masker ketika kualitas udara memburuk, kurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi asap semakin pekat, cukupkan kebutuhan air minum,” kata Aulia. Perhatian lebih, lanjut dia, perlu diberikan kepada anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat dengan kerentanan kesehatan.
Aulia juga meminta perangkat pemerintah dan panitia memastikan aspek kesehatan, keselamatan, kesiapsiagaan, dan perubahan kualitas udara tetap dipantau selama Erau.
Baca Juga: Mendadak Disisir Aparat Gabungan, Kamar Napi Lapas Balikpapan Kedapatan Simpan Sajam
Pemkab Kukar sebelumnya menyatakan pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara menjadi bagian dari mitigasi penyelenggaraan. Penyesuaian kegiatan disiapkan apabila kondisi luar ruangan dinilai tidak kondusif.
Dengan begitu, perhelatan tahun ini membawa dua pekerjaan sekaligus: menjaga keberlangsungan tradisi dan memastikan masyarakat dapat mengikutinya tanpa mengabaikan risiko lingkungan.
Menuju Hari Jadi Kota Raja
Delapan hari rangkaian utama Erau membawa Tenggarong melewati hampir seluruh pekan terakhir September. Sehari setelah agenda utama berakhir pada 27 September, Tenggarong memperingati hari jadinya pada 28 September. Peraturan daerah menetapkan 28 September 1782 sebagai Hari Jadi Kota Tenggarong.
Momentum keduanya pun berimpitan: Erau membawa kembali tradisi Kesultanan, sementara Hari Jadi Kota Tenggarong mengingatkan perjalanan Kota Raja yang tumbuh di tepian Mahakam.
Dalam sambutannya, Aulia menyambut tamu dari berbagai daerah dengan satu kalimat: “Selamat datang kembali di Tenggarong, Kota Raja yang istimewa.”
Tahun ini, Kota Raja membawa salah satu tradisi terbesarnya ke panggung nasional melalui KEN. Tantangannya bukan hanya membuat Erau ramai ditonton, tetapi memastikan adat tetap hidup di tengah masyarakat yang mewarisinya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo