Kisah Nadita Aisyah Fitri: Qariah Sangkulirang Kutim Meraih Juara 2 MTQ Nasional 2026

Eko Pralistio • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 10:07 WIB
Qariah asal Sangkulirang, Kutai Timur, Nadita Aisyah Fitri, menunjukkan trofi dan penghargaan usai meraih juara dua Tilawah Dewasa Putri MTQ Nasional 2026. (FOTO: IST)
Qariah asal Sangkulirang, Kutai Timur, Nadita Aisyah Fitri, menunjukkan trofi dan penghargaan usai meraih juara dua Tilawah Dewasa Putri MTQ Nasional 2026. (FOTO: IST)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Gemuruh rasa syukur mengiringi langkah Nadita Aisyah Fitri saat namanya berkumandang sebagai juara dua cabang tilawah dewasa putri pada ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional 2026 di Jawa Tengah.

Dara berusia 25 tahun asal Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur, ini kembali membuktikan keteguhan mental dan kualitas vokalnya di panggung syiar Alquran paling bergengsi di Tanah Air.

Kabar gembira tersebut diterimanya saat berada di tenda rombongan Kafilah Kaltim. Perasaan haru, bahagia, dan takjub bercampur menjadi satu ketika hasil jerih payah latihannya berbuah manis di podium nasional.

Baca Juga: Proyek Jalan IKN Senilai Rp3,98 Triliun Masuk Pengamanan Kejagung, Ini Tiga Kawasan yang Digarap

"Alhamdulillah, saya bersyukur dan senang dengan hasil yang sudah ada. Artinya, saya perlu meningkatkan lagi kemampuan yang sudah saya punya," ujar Nadita saat menceritakan kembali momen haru tersebut, Senin (21/9).

Perjalanan menuju posisi runner-up nasional ini tidak ditempuh lewat jalan pintas. Sejak akhir 2025, ia telah menjalani pemusatan latihan intensif yang penuh dinamika, mulai dari menjaga ketahanan fisik hingga berjuang memulihkan stamina akibat masalah kesehatan.

Menaklukkan Ujian di Atas Mimbar

Memasuki arena perlombaan kategori dewasa menghadirkan tekanan mental yang jauh lebih menantang dibandingkan saat ia masih berlaga di kategori remaja. Terlebih, sistem perlombaan pada babak penyisihan menentukan maqra atau potongan ayat sesaat sebelum peserta menaiki mimbar tilawah.

Kondisi mendadak itu menuntut konsentrasi serta ketelitian tingkat tinggi dari setiap qari dan qariah. Tanpa ada kesempatan untuk melancarkan bacaan di belakang panggung, risiko kekeliruan tajwid atau salah bacaan membayangi di setiap tarikan napas.

"Tantangannya adalah pada babak penyisihan, maqra yang dibaca ditentukan ketika hendak naik mimbar tilawah. Tantangan ini yang menjadi kekhawatiran karena menuntut ketelitian," ungkap dara kelahiran Sangkulirang tersebut.

Tantangan bertambah rumit ketika ia harus membiasakan diri dengan karakter panggung tilawah yang kedap suara luar. Akustik mimbar yang sunyi membuat pantulan suara dari mulutnya justru terdengar samar di telinganya sendiri saat melantunkan ayat suci.

Untuk meredam debar jantung yang berdenyut kencang sebelum tampil, Nadita bersandar pada amalan rohani yang diajarkan para guru dan pembimbingnya. Zikir, istigfar, selawat, serta lantunan Surah Al-Fatihah menjadi penawar rasa gugup yang paling mujarab.

Di balik keindahan cengkok tilawah yang ia bawakan, tersimpan disiplin latihan yang ketat setiap hari. Bersama rekan-rekan semajelis, Nadita melatih keutuhan lagu, vokal, tajwid, fasahah, dan manajemen pernapasan secara simultan.

Baca Juga: Kafilah Kaltim Juara Umum MTQ Nasional 2026 untuk Ketiga Kalinya, Gubernur Sebut Buah dari Ketekunan

Durasi latihan perorangan berkisar antara 10 hingga 30 menit dan bisa berlangsung hingga satu jam sesuai petunjuk pelatih. Ketahanan fisik menjadi taruhan utama karena ia harus mampu mengolah napas panjang maupun meliukkan variasi lagu pada ayat pendek.

Ujian terberat sempat datang menghantam ketika kondisi tubuhnya mendadak tumbang akibat sakit di tengah masa latihan. Penurunan stamina seketika berdampak pada pita suaranya yang tidak bisa bekerja maksimal saat melantunkan nada-nada tinggi.

"Pernah ketika sedang sakit, karena suara juga tidak sedang dalam keadaan fit, otomatis kemampuan jadi menurun dan itu cukup berat untuk saya bisa melanjutkan latihan," beber Nadita.

Konsistensi Menjaga Jejak Emas

Prestasi di Jawa Tengah ini semakin memperpanjang torehan tinta emas Nadita di panggung tilawah nasional. Sebelumnya, ia meraih juara harapan satu kategori remaja putri pada MTQ Nasional 2020 di Sumatera Barat.

Puncaknya, ia sukses bertengger di podium tertinggi sebagai juara pertama cabang tilawah remaja putri saat MTQ Nasional 2024 dihelat di Kalimantan Timur, Samarinda. Melangkah ke level dewasa, ia membuktikan kematangannya dengan menyabet juara harapan satu pada STQH Nasional 2025 di Sulawesi Tenggara.

Demi menjaga konsistensi suara di level tertinggi, ia rela membatasi berbagai kesenangan pribadi demi kedisiplinan pola istirahat. Nadita menjaga pola makan secara ketat, berolahraga, memperbanyak ibadah, serta mengelola beban pikiran agar tidak stres.

"Tentu tidak dipungkiri bahwa ada rasa sedikit kecewa karena saya merasa sudah memberikan penampilan maksimal, tetapi semuanya adalah bagian dari takdir Allah," tutur qariah berhijab ini dengan lapang dada.

Baca Juga: Kaltim Juara Umum MTQ Nasional 2026, Peserta Berprestasi Dijanjikan Bonus hingga Rp100 Juta

Menyalakan Api Inspirasi Generasi Muda

Bagi Nadita, seluruh pengorbanan waktu, pikiran, tenaga, hingga materi yang ia curahkan adalah bentuk pengabdian di jalan Alquran. Ia meyakini setiap kelelahan yang diniatkan untuk syiar agama akan selalu mendatangkan keberkahan yang jauh lebih besar.

Panggung kejuaraan bukanlah muara akhir dari kecintaannya terhadap kalam Ilahi. Nadita berharap jejak langkah yang ia rintis dapat menjadi lentera penyemangat bagi tunas-tunas muda di Kutai Timur dan Benua Etam pada umumnya.

"Saya ingin melalui lantunan saya, orang-orang bisa ingin mempelajari Alquran, mendalaminya, dan menjadi juara-juara baru di masa depan," pungkasnya penuh harap.

Editor : Uways Alqadrie
Nadita Aisyah Fitri MTQ Nasional XXXI 2026 di Semarang MTQN XXXI 2026 Sangkulirang Kutai Timur pemprov kaltim