KALTIMPOST.ID-Distribusi makan bergizi gratis (MBG) untuk sekolah di bawah naungan Pemkab Kutai Timur (Kutim) masih dihentikan sementara.
Kebijakan tersebut mengikuti penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) akibat kabut asap dan memburuknya kualitas udara.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) APT Pranoto Sangatta Dinand Ananda Perdana mengatakan, distribusi MBG masih mengacu pada surat edaran Bupati Kutim mengenai PJJ yang diterbitkan sejak Kamis (17/9).
Hingga Senin (21/9), pihaknya belum menerima pemberitahuan resmi mengenai pencabutan kebijakan tersebut.
“Kalau untuk SPPG saya di wilayah APT Pranoto itu masih mengacu pada surat edaran Pak Bupati tentang pembelajaran jarak jauh,” kata Dinand.
Baca Juga: Gawat! Kabut Asap Samarinda Mulai Berdampak ke Kucing, Kasus Sesak Napas Meningkat
Kondisi tersebut berlaku bagi sekolah jenjang TK hingga SMP yang berada di bawah kewenangan pemerintah kabupaten.
Distribusi MBG baru dapat kembali dilakukan setelah ada keputusan resmi mengenai pelaksanaan pembelajaran tatap muka.
“Jadi, yang untuk sekolah di bawah naungan kabupaten kota, kami masih belum distribusi dari TK sampai dengan SMP,” jelasnya.
Sementara itu, sejumlah SMA dan SMK yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi telah kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka. Distribusi MBG untuk sekolah tersebut pun kembali berjalan.
Di wilayah layanan SPPG APT Pranoto, sekolah yang telah menerima kembali MBG di antaranya SMA 1 Sangatta Selatan dan SMK 1 Sangatta Utara.
Menurut Dinand, sekolah yang telah mencabut PJJ dapat kembali dilayani setelah terdapat pengumuman resmi dari kepala sekolah. Distribusi juga tetap mempertimbangkan standar keamanan pangan.
Baca Juga: Kabut Asap Mahulu Kategori Berbahaya, Siswa Belajar dari Rumah hingga 26 September, Ujian Ditunda
“Yang penting ada pengumuman resmi tiap sekolah melalui kepala sekolahnya, maka kami salurkan kembali dengan catatan harus safety, juga harus dengan standar keamanan pangan,” ujarnya.
Penghentian sementara di sebagian sekolah berdampak terhadap volume produksi dapur SPPG.
Saat ini, SPPG APT Pranoto melayani sekitar 2.116 penerima manfaat dari kondisi normal sebanyak 3.030 penerima.
Layanan bagi penerima manfaat di posyandu turut menyesuaikan kondisi wilayah. Pada Senin, distribusi masih dilakukan untuk empat posyandu di kawasan APT Pranoto.
Namun, Dinand menegaskan distribusi tidak akan dipaksakan apabila kualitas udara kembali memburuk.
Wilayah yang masih menerapkan PJJ atau rawan terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) disarankan menunda penyaluran.
“Kalau memang sedang ada PJJ atau daerahnya mungkin daerah yang rawan karhutla, maka kami sarankan tidak didistribusikan terlebih dahulu,” katanya.
SPPG kini menunggu kebijakan terbaru Pemkab Kutim mengenai PJJ. Jika pembelajaran tatap muka kembali diberlakukan dan kondisi udara memungkinkan, jumlah produksi MBG akan disesuaikan dengan penerima manfaat.
“Konsep ini kami masih hybrid. Setengah dari penerima manfaat kami mulai dari TK sampai dengan SMP itu belum kami layani karena belum ada surat edaran resmi terkait pencabutan PJJ,” pungkasnya. (rd)
Editor : Romdani.