KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan periode 2026–2027 di Indonesia akan datang lebih lambat dari biasanya. Kondisi ini dipicu oleh fenomena El Nino yang saat ini berada pada fase sangat kuat.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menjelaskan, pergeseran jadwal ini berdampak pada durasi musim hujan yang menjadi lebih pendek, meski sifat curah hujannya diprakirakan tetap berada pada kategori normal.
Baca Juga: BMKG Rilis Peringatan Dini 25-26 September 2026, Sumut & Papua Tengah Masuk Siaga
"Karena El Nino sekarang posisinya sangat kuat, fasenya, sehingga musim hujan di Indonesia itu akan sedikit mundur," kata Faisal saat ditemui wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (24/9/2026).
Faisal menerangkan, sebagian wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada Oktober mendatang. Awal musim hujan ini difokuskan pada daerah-daerah yang menjadi prioritas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan.
Baca Juga: Jangan Salah Kaprah, Anak Pendek Tak Selalu Stunting, Bisa Jadi Gangguan Hormon
Sementara itu, wilayah Indonesia lainnya baru akan memasuki musim hujan secara bertahap pada kurun November hingga Desember. Puncak musim hujan sendiri diproyeksikan terjadi pada Desember 2026 hingga Februari 2027.
Meski demikian, BMKG memberikan peringatan khusus terkait pola musim hujan kali ini. Durasi hujan yang terkonsentrasi dalam waktu lebih singkat berpotensi memicu peningkatan risiko bencana hidrometeorologi basah secara mendadak.
Baca Juga: Larangan Bakar Lahan dan Pentingnya Desakralisasi Hukum Adat
“Cuma ada satu hal yang kita khawatirkan saat ini karena sifat hujannya untuk musim hujan 2026-2027 ini adalah normal, tapi durasinya lebih pendek. Sehingga kita khawatirkan terkait dengan peningkatan dari bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan longsor nantinya,” kata Faisal.(*)
Editor : Thomas Priyandoko