KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Seorang balita berinisial YS, berusia satu tahun, meninggal dunia setelah mengalami sesak napas dan menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Mulya Medika, Samarinda.
Kakek korban, Sarno (62), menduga kondisi cucunya berkaitan dengan paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti kawasan tempat tinggal mereka. Sarno mengatakan, sesak napas yang dialami YS muncul secara mendadak saat berada di rumah mereka di Jalan Diponegoro, Kelurahan Bukuan, Kecamatan Palaran.
Keluarga kemudian membawa balita tersebut ke puskesmas pada Rabu (14/10/2026) pagi sebelum dirujuk ke Rumah Sakit Mulya Medika. Namun, kondisi YS mengharuskannya menjalani perawatan intensif di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU). Setelah dirawat selama semalam, nyawa balita tersebut tidak tertolong. YS meninggal dunia pada Kamis (15/10/2026) sekitar pukul 06.00 Wita.
Baca Juga: Bukan Cuma Karhutla Lokal, BMKG Sebut Kabut Asap Balikpapan Terbawa Angin dari Maluku hingga Papua
“Sesaknya mendadak. Kemarin pagi dibawa ke puskesmas, kemudian mendapat rujukan ke Mulya Medika. Semalam saja di rumah sakit, paginya meninggal,” ujar Sarno. Di tengah duka tersebut, Sarno menyentil kondisi udara di sekitar tempat tinggalnya. Menurutnya, asap kebakaran lahan yang terjadi pada malam sebelum cucunya meninggal terasa sangat pekat dan menyebar hingga ke permukiman warga.
“Kalau kemungkinan karena asap, iya. Kebakaran lahan tadi malam juga ada, asapnya sampai ke sini. Memang kabut asapnya tinggi sekali kalau sedang terjadi kebakaran,” katanya. Meski menduga ada kaitan antara asap dan gangguan pernapasan cucunya, Sarno mengakui keluarga tidak mengetahui penyebab pasti kematian YS. Dugaan itu muncul karena sesak napas terjadi ketika kondisi lingkungan sedang diselimuti asap.
Sarno juga menyinggung upaya perlindungan warga dari paparan asap, termasuk imbauan menggunakan masker dan pembagian masker oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM). Namun, menurut dia, penggunaan masker menjadi persoalan tersendiri bagi bayi karena ukuran yang tersedia belum tentu sesuai.
Baca Juga: BMKG Deteksi 606 Titik Panas di Kaltim, Udara Samboja-IKN Menyentuh Angka 219
“Sudah ada imbauan supaya pakai masker, bahkan ada LSM yang membagikan masker. Tapi untuk bayi, ukurannya kecil, jadi bagaimana mau dibagikan kalau maskernya tidak sesuai,” tuturnya. Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda, dr. Ismid Kusasih, membantah kematian balita tersebut disebabkan oleh asap karhutla. Dia meminta agar penyebab kematian dikonfirmasi langsung kepada pihak rumah sakit.
“Ya, tapi meninggal bukan karhutla. Silakan konfirmasi ke rumah sakit,” kata Ismid. Hingga kini, penyebab pasti kematian YS belum dijelaskan berdasarkan keterangan medis. Dugaan keluarga mengenai paparan asap dan pernyataan Dinkes Samarinda tersebut masih menunggu keterangan resmi rumah sakit. (riz)
Editor : Muhammad Rizki