Karhutla Ancam Kesehatan Hewan, Lahan Pakan Ternak Samarinda Menyusut Hingga 65 Persen

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Samarinda tak hanya menyisakan kabut asap yang mengganggu aktivitas warga, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan hewan.
Di tengah kondisi tersebut, peternak menghadapi persoalan lain, yakni ketersediaan hamparan lahan hijauan pakan ternak (HPT) yang menyusut hingga 65 persen akibat kebakaran dan kekeringan.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Samarinda Maskuri mengatakan, paparan asap berpotensi memicu gangguan pernapasan pada hewan peliharaan maupun ternak.
"Kalau terdampak, hewan peliharaan maupun hewan ternak pasti ada dampaknya. Minimal dampak pada pernapasan, sama seperti manusia. Cuma sejauh ini kita belum melakukan evaluasi khusus atau monitoring khusus. Kita masih menunggu laporan dari masyarakat," ujar Maskuri, Rabu (14/10).
Klinik hewan DKPP Samarinda belum menerima laporan hewan peliharaan yang dipastikan mengalami gangguan akibat paparan asap karhutla. Pelayanan masih didominasi pemeriksaan rutin, pemberian vitamin, serta penanganan penyakit pada anjing dan kucing.
Sejumlah hewan peliharaan memang mendapat penanganan pernapasan melalui nebulisasi. Namun, Maskuri menegaskan, gangguan tersebut belum tentu disebabkan asap, karena bisa dipicu penyakit lain. Pada sapi, gejala batuk pada malam hari juga dapat berkaitan dengan meningkatnya gas amonia di kandang sehingga penyebab utamanya belum bisa dipastikan.
Di sisi lain, dampak yang lebih nyata dirasakan peternak adalah berkurangnya ketersediaan pakan. Kondisi ini membuat peternak mencari rumput hingga ke Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Sebagian juga beralih ke konsentrat dan rumput kering cacah, meski biaya pakan lebih tinggi dan berpotensi memengaruhi harga jual ternak.
Baca Juga: Karhutla 3 Bulan Tak Kunjung Padam di Kaltim, DPRD Sindir Kemenhut Jangan Cuma Ambil Hak Izin
"Sekarang mencari rumput semakin jauh. Peternak mulai beralih ke konsentrat dan rumput kering yang dicacah. Memang kandungannya bagus, tetapi biaya pakannya juga lebih tinggi," jelasnya.
Untuk mengatasi kekurangan air di kawasan pengembangan peternakan babi di Kampung Ipil, Makroman, DKPP Samarinda telah menyalurkan bantuan melalui anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT). Bantuan berupa mesin penyedot air dan selang sepanjang 100 meter digunakan untuk mengalirkan air sungai ke kandang.
Sementara itu, Maskuri menyebut belum ada laporan ternak sapi dan kambing yang membutuhkan intervensi serupa akibat kekurangan air. Meski demikian, ketersediaan pakan tetap menjadi perhatian, terutama bagi sapi Bali yang menyukai rumput alami dari kawasan rawa dan gambut.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




