Waspada Puncak Kasus DBD, Diskes Kaltim Perkuat Gerakan PSN dan Satu Rumah Satu Jumantik

Eko Pralistio • Dipublikasikan Kamis, 5 November 2026 | 22:38 WIB
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Kalimantan Timur Andi Muhammad Ishak memberikan keterangan usai pelantikan di Samarinda. (EKO/KALTIM POST)
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim Andi Muhammad Ishak, (EKO/KALTIM POST)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Musim hujan bukan sekadar membawa ancaman banjir. Di balik genangan air yang mulai bermunculan, nyamuk Aedes aegypti juga berpeluang berkembang biak dan memicu lonjakan kasus demam berdarah dengue (DBD). 

Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Dinkes Kaltim) pun mulai meningkatkan kewaspadaan. Puncak kasus diperkirakan terjadi pada Desember 2026 hingga Januari 2027. Kepala Dinkes Kaltim Andi Muhammad Ishak mengatakan, pola peningkatan kasus DBD dalam lima tahun terakhir menunjukkan adanya hubungan dengan musim hujan. 

Biasanya, lonjakan terjadi sekitar satu hingga satu setengah bulan setelah hujan mulai turun secara intensif. Jika hujan mulai masif pada November hingga Desember, maka periode berikutnya menjadi waktu yang perlu diwaspadai.

“Jika musim hujan mulai masif pada November hingga Desember, maka satu hingga satu setengah bulan berikutnya, yaitu sekitar Desember dan Januari, kita harus siap siaga menghadapi potensi puncak kasus,” ujarnya, Minggu (1/11).

Baca Juga: Anggaran Rp 10 Miliar untuk Uang Lelah Petugas Karhutla Kaltim Baru Terserap di Bawah 10 Persen

Menurutnya, DBD sebenarnya merupakan penyakit yang bisa dicegah. Karena itu, jangan sampai keterlambatan pencegahan maupun penanganan membuat penyakit tersebut berujung pada kematian. Namun, angka kematian akibat DBD di Kaltim masih menjadi perhatian. Berdasarkan data yang dimiliki Dinkes, Case Fatality Rate (CFR) atau angka kematian kasus DBD masih mendekati 1 persen. Artinya, penyakit ini belum bisa dianggap sepele.

Untuk menekan risiko lonjakan kasus, Andi meminta seluruh Dinas Kesehatan kabupaten dan kota kembali menggerakkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara serentak. Salah satu langkah yang ditekankan adalah menghidupkan gerakan satu rumah satu juru pemantau jentik. Gerakan ini disebut penting karena pengendalian DBD tidak bisa hanya mengandalkan rumah sakit maupun fasilitas kesehatan.

Pencegahan justru harus dimulai dari lingkungan tempat tinggal, terutama dengan memastikan tidak ada tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. "Bak mandi, wadah penampungan air, hingga barang bekas yang dapat menampung air hujan perlu mendapat perhatian. Sebab, tempat-tempat tersebut bisa menjadi lokasi berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti," lanjutnya.

Baca Juga: Disoroti KPK sebagai Anomali, Banggar DPRD Kaltim Pertimbangkan Tarik Usulan Pokir Lintas Dapil

Di sisi lain, Dinkes Kaltim juga mendorong penggunaan teknologi untuk memetakan wilayah yang rawan DBD.  Pengendalian penyakit yang ditularkan melalui vektor nyamuk itu perlu ditopang data surveilans dan kajian entomologi agar penanganannya lebih terarah. Salah satunya melalui pemetaan spasial menggunakan Geographic Information System (GIS). 

Dengan teknologi tersebut, pemerintah dapat mengidentifikasi daerah rentan sekaligus mengetahui titik-titik yang menjadi konsentrasi kasus atau hotspot DBD. Hasil pemetaan itu nantinya bisa menjadi dasar menentukan wilayah prioritas.  "Dengan begitu, upaya pencegahan tidak dilakukan secara seragam, melainkan disesuaikan dengan tingkat kerawanan masing-masing daerah," bebernya.

Andi juga meminta pemerintah daerah memperkuat sistem peringatan dini atau early warning system. Faktor cuaca perlu ikut diperhitungkan dalam membaca potensi peningkatan kasus, termasuk dengan memanfaatkan informasi prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Menurutnya, kesiapsiagaan menghadapi DBD membutuhkan kerja bersama. Pemerintah kabupaten dan kota, fasilitas pelayanan kesehatan, hingga masyarakat harus terlibat dalam pengendalian jentik, pemantauan kasus, serta edukasi pencegahan. "Sehingga, potensi lonjakan DBD pada akhir tahun hingga awal 2027 diharapkan bisa ditekan. Bukan hanya jumlah kasus yang perlu dikendalikan, tetapi juga angka kematian yang semestinya dapat dicegah," kuncinya. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
DBD Kaltim jumantik Diskes Kaltim