TEPAT sehari setelah lebaran pertama, pada pembuka April ini Titis Putri Herliani memutuskan untuk segera membeli tiket terbang ke Kota Sanggam. Perempuan kelahiran 1997 tersebut mengambil keputusan ini setelah mendapat restu dari tantenya untuk berlibur, kali ini alasannya mengisi waktu cuti Hari Raya dan ingin mengunjungi satu pulau yang paling terkenal di Berau yakni Pulau Derawan.
Titis mengaku tertarik untuk berkunjung ke Pulau Derawan karena ajakan kawannya yang merupakan warga Berau. “Biasanya liburan begini pasti keluar Pulau Kalimantan, kalau enggak Bali ya Jawa. Cuma kali ini karena diajakin teman memutuskan untuk coba jelajahi wisata Kaltim yang lain. Ini pengalaman perdana ke Berau,” ungkap perempuan yang bekerja di bidang jasa keuangan milik negara tersebut.
Sebenarnya, obrolan untuk berlibur ke Pulau Derawan sudah ada sejak awal Ramadan. Titis sudah coba-coba cek tiket pesawat, setiap waktu bahkan hitungan menit harganya berubah. Tapi masih di-range harga yang sama, antara Rp 900 ribu - 1,5 juta.
Karena baru mendapat restu pada hari kedua lebaran, untuk keberangkatan esok lusanya, Titis dapat harga tiket yang lumayan tinggi sebesar Rp 1,4 juta ditempuh dari Bandara Sepinggan Balikpapan sampai di Bandara Kalimarau Berau.
Harga yang mahal itu coba dia kesampingkan. Niatnya sudah bulat untuk kunjungi Pulau Derawan.
Pesawatnya berangkat pada Kamis (3/4) pukul 13.00 Wita. Dia mendarat di Bandara Kalimarau sekitar pukul 14.20 Wita. Setelah itu, Titis beristirahat di rumah kawannya dan merencanakan bersama kawannya untuk ke Pulau Derawan esoknya.
Kepada Kaltim Post, dia mengakui memang kurang persiapan, karena dadakan. Setelah cari info sana-sini dan berbagai pertimbangan akhirnya dia memilih untuk ikut tumpangan mobil sedan ke Pelabuhan Berau, kemudian disambung menggunakan speedboat untuk menyeberang ke Pulau Derawan.
“Harga tumpangan mobil per orang Rp 150 ribu, naik speed seratus ribu, total Rp 250 ribu. Sebenarnya sempat ditawari naik speed dari Tanjung Redeb sampai Pulau Derawan dengan tarif Rp 310 ribu, cari yang lebih murah aja lah,” sebutnya.
Waktu yang ditempuh sampai ke tujuan sekitar 2-3 jam. Perjalanan darat sekitar 1,5-2 jam, dilanjut menyeberang sekitar 30-40 menit.
Sesampainya di Pulau Derawan, Titis tampak takjub, deretan cottage-cottage di atas air itu bagaikan lego yang tersusun rapi dari kejauhan. Dia seketika mendambakan tidur di kasur yang nyaman, menikmati pemandangan sunrise dan sunset dari kamar.
Tapi angan-angan itu perlu ditunda sehari dulu, sebab jadwal liburannya ini di waktu high season, semua cottage atas air penuh. Titis dan kawannya hanya bisa mendapat penginapan di rumah warga atau home stay.
“Jadi, warga-warga di Pulau Derawan itu menyewakan kamar-kamar di rumah mereka, itu pun hampir semuanya penuh. Masih beruntung aku dapat kamar dengan AC, dan WC dalam yang bisa diisi 4 orang, harganya Rp 450 ribu per malam. Nah, besoknya bakal pindah ke cottage yang aku mau, harganya Rp 600 ribu per malam,” ucapnya.
Setelah selesai dengan urusan kamar Titis dan tiga kawannya lalu pergi mengelilingi pulau. Mereka menyewa 2 motor listrik yang bisa dipakai berboncengan. Harga sewanya Rp 50 ribu, bisa dipakai seharian.
Untuk makanan dan jajanan menurutnya juga lumayan terjangkau. Dia menyebut harga makanan di Pulau Derawan sama saja seperti harga makanan di kota-kota besar Kaltim seperti Samarinda dan Balikpapan, ungkap dia.
Mereka juga berencana di hari kedua akan mengikuti trip, keliling tiga pulau. Mulai dari Pulau Kakaban, Pulau Sangalaki, dan Maratua. “Rencananya ikut trip. Harganya 4 juta keliling pulau-pulau seharian,” katanya. Dia menilai harga tersebut tidak mahal, kalau patungan hanya sekitar Rp 300 ribu per orangnya, karena satu kapal bisa diisi 14 orang, keliling tiga pulau dan dapat makan siang gratis.
Di Pulau Derawan Titis berencana liburan 3 hari 2 malam. Menurut perhitungannya perlu mengeluarkan dana sekitar Rp 1,5 - 2 juta untuk trasportasi, liburan, makan, dan penginapan.
“Budget itu di luar harga tiket pesawat pulang pergi Balikpapan-Berau. kalau sama tiket mungkin kisaran 4-5 juta. Sebenarnya menurut saya tidak mahal, asal bukan high season, dan dengan persiapan yang matang. Nah, agendaku dadakan. Jadi biayanya membengkak khususnya dari harga tiket pesawat dan penginapan, kalau persiapannya matang harusnya bisa lebih hemat 40 persen,” katanya.
Di balik itu Titis merasa puas, liburan di dalam Kaltim ternyata sesuai dengan ekspektasinya. Walaupun kerap liburan ke luar daerah menurutnya wisata Kaltim juga bisa bersaing. “Apalagi Kaltim punya wisata bahari yang menakjubkan, aku sempat snorkling indah sekali pemandangan bawah lautnya. Walaupun mahal aku puas,” pungkas dia. (rdh)
NASYA RAHAYA
@nasyarahaya
Editor : Muhammad Ridhuan