KALTIMPOST.ID, Kalimantan Timur punya warisan budaya yang tak ternilai, salah satunya adalah Ulap Doyo, kain tenun tradisional Suku Dayak Benuaq dan Tunjung.
Nama “Ulap Doyo” sendiri berasal dari bahasa Dayak, di mana “ulap” berarti kain dan “doyo” adalah tanaman yang menjadi bahan utamanya.
Kain ini masih ditenun dengan proses tradisional oleh para penenun sesepuh, terutama perempuan-perempuan Suku Dayak yang sudah berusia.
Kain ini bahkan sering digunakan dalam pameran fashion dan menjadi wastra kelas atas di Kaltim.
Sayangnya, tenun kuno yang sarat makna ini kini menghadapi ancaman kepunahan.
Fenomena ini bukan tanpa alasan, ada banyak faktor yang mengancam kelestarian kain tradisional ini.
Berikut adalah beberapa penyebab utama mengapa tenun Ulap Doyo terancam punah.
Minimnya Regenerasi Pengrajin dan Minim Bahan Baku
Karena keahlian menenun Ulap Doyo masih dipegang oleh para sesepuh, terutama perempuan-perempuan Suku Dayak yang sudah berusia.
Proses menenun yang rumit dan memakan waktu membuat kaum muda kurang tertarik untuk mempelajarinya.
Akibatnya, keterampilan menenun ini sulit diteruskan ke generasi berikutnya.
Selain itu, bahan baku utama tenun ini, yaitu serat daun doyo (Curculigo latifolia), semakin langka.
Tanaman ini tumbuh liar di hutan, namun ketersediaannya terancam oleh alih fungsi lahan seperti perkebunan dan pertambangan. Tanpa bahan baku, kelangsungan tenun ini pun terancam.
Persaingan dengan Produk Massal
Proses produksi Ulap Doyo yang lambat dan tidak bisa diproduksi secara massal membuatnya sulit bersaing.
Apalagi, produk tekstil pabrikan dan pakaian massal yang lebih murah membuat masyarakat beralih ke produk instan.
Kain bermotif Dayak kini banyak diproduksi dengan teknik printing yang lebih cepat dan murah, membuat Ulap Doyo yang asli tersisih oleh imitasi.
Minimnya Dokumentasi dan Promosi
Pengetahuan tentang Ulap Doyo seringkali hanya diwariskan secara lisan, tanpa dokumentasi atau sistem pelatihan formal.
Ini membuat banyak anak muda tidak tahu cara membuat atau makna filosofisnya.
Selain itu, kurangnya promosi dan branding membuat kain ini hanya beredar di lingkup lokal.
Mendukung Ulap Doyo agar Tetap Lestari
Menyelamatkan Ulap Doyo bukan cukup hanya dengan menjadikannya simbol budaya.
Diperlukan upaya terpadu, seperti pendidikan dan pelatihan bagi generasi muda, budidaya tanaman doyo, serta inovasi dalam desain dan pemasaran.
Dukungan pemerintah dan komunitas budaya juga sangat penting agar warisan tak ternilai ini tidak hanya menjadi kenangan, tetapi juga tetap hidup di tengah masyarakat. ***
Editor : Dwi Puspitarini