Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Film Kuyank Dibedah di Samarinda, Siapkan Kisah Hantu Banyu untuk Skuel

Nasya Rahaya • Kamis, 29 Januari 2026 | 15:27 WIB
DIBEDAH: Sutradara film Kuyank Johansyah Jumberan (kedua kanan) bersama para pemain dan sejarawan Samarinda Muhammad Sarip (pertama kiri) berbincang dalam forum di Universitas Mulawarman.
DIBEDAH: Sutradara film Kuyank Johansyah Jumberan (kedua kanan) bersama para pemain dan sejarawan Samarinda Muhammad Sarip (pertama kiri) berbincang dalam forum di Universitas Mulawarman.

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA-Kuyank, urban legend asal tanah Borneo, kembali diangkat melalui film Kuyang, prekuel dari Saranjana: Kota Gaib. Tak hanya dipromosikan lewat layar bioskop, cerita Kuyank juga dibedah dalam forum diskusi yang diinisiasi Sumbu Tengah bertajuk Urban Legend Kalimantan dalam Industri Film Nasional yang digelar di Gedung Masjaya Unmul Hub, Samarinda, Selasa (27/1).

Sejarawan Samarinda Muhammad Sarip menilai, Kuyank berhasil keluar dari jebakan stereotip horor yang kerap memosisikan Kalimantan sebagai wilayah mistis dan primitif. Menurutnya, film itu justru menghadirkan kekayaan budaya lokal secara proporsional dan kontekstual.

“Ada balap jukung, pernikahan adat, penggunaan bahasa Banjar yang dominan, dan seluruh lokasi syuting 100 persen di Kalimantan. Itu bukan budaya tempelan, tapi dieksekusi secara profesional,” ujarnya.

Produksi film Kuyank melibatkan sekitar 1.500 warga lokal tanpa muatan sponsor institusi pemerintah. Hal tersebut, kata Sarip, menunjukkan bahwa industri kreatif daerah benar-benar bergerak dari hulu ke hilir, bukan sekadar ornamen naratif.

Diskusi yang dikemas dalam Ngobrol Film Kuyang Bareng Sineas itu turut menghadirkan sutradara Johansyah Jumberan serta para pemain, di antaranya Jolene Marie, Daulat, dan Dayu Wijanto. Forum itu menjadi ruang dialog tentang posisi cerita rakyat Kalimantan dalam industri film nasional yang selama ini masih didominasi narasi dari Pulau Jawa.

Disutradarai Johansyah Jumberan, sineas asal Banjar, Kuyang merupakan bagian dari pengembangan Saranjana Universe yang secara konsisten mengangkat urban legend Kalimantan dengan pendekatan sinema industri. Johansyah menegaskan, pilihannya mengangkat cerita daerah bukan semata strategi pasar, melainkan tanggung jawab kultural.

“Saya mempertaruhkan segalanya untuk bikin film tentang Kalimantan, dengan bahasa dan dialek Kalimantan yang kental. Saya tidak tahu akan diterima atau tidak, tapi setidaknya orang Kalimantan dulu yang menerima,” ujar Johansyah.

Salah satu pemain, Daulat Sinambela, yang juga merupakan warga Samarinda mengaku keterlibatannya dalam film tersebut berawal dari keinginan mencari pengalaman baru di luar rutinitasnya sebagai dosen dan praktisi medis. Dunia film, menurutnya, menawarkan tantangan yang sama sekali berbeda.

“Itu dunia yang sangat baru buat saya. Banyak keunikan dan proses yang menarik. Saya berterima kasih kepada Mas Jo, karena sudah memberi kesempatan saya terlibat di film ini,” ujarnya.

Sementara itu, Jolene Marie, yang memerankan karakter Husna—sosok Kuyang—menyebut film ini menawarkan horor yang berbeda dari pakem arus utama. Dia tertarik karena Kuyank tidak hanya menghadirkan teror, tetapi juga lapisan budaya Banjar yang kuat.

“Selama ini horor kita itu pocong lagi, kuntilanak lagi, dan kebanyakan berbahasa Jawa. Ketika ada film horor berbahasa Banjar dengan adat Banjar yang otentik, itu sesuatu yang segar dan berbeda di market,” kata Jolene.

Aktris senior Dayu Wijanto turut mengapresiasi tumbuhnya industri film di luar Jawa, khususnya Kalimantan. Dia menekankan pentingnya kesiapan mental dan sikap bagi generasi muda yang ingin terjun ke dunia perfilman. “Industri ini terlihat indah, tapi tempaan mentalnya luar biasa. Siapkan mental, jaga attitude, dan jangan pernah meremehkan kru. Tanpa mereka, aktor tidak ada apa-apanya,” pesannya.

Founder Sumbu Tengah Rusdianto menjelaskan, setelah para pelaku bidang perfilman Kaltim hadir lalu menyimak dan berdiskusi bersama sineas film Kuyank, harapannya industri perfilman Kaltim bisa bangkit. “Dari forum ini saya berharap tidak sekadar mendapatkan sesuatu, tapi setelah ini sineas Kaltim sudah harus segera berbuat sesuatu,” ujarnya.

Terakhir, kepada Kaltim Post sang sutradara mengakui pihaknya akan mengangkat salah satu urban legend yang melekat pada ikon Samarinda yakni hantu banyu. “Di sekuel selanjutnya akan ada hantu banyu, dan pengambilan gambar tentunya berfokus di Sungai Mahakam, Samarinda,” pungkasnya. (*)

Editor : Dwi Restu A
#film #Kuyank #samarinda