Puskesmas Gunung Samarinda Ungkap Kendala CKG, Input Data Bikin Target Belum Maksimal

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Puskesmas Gunung Samarinda terus berupaya mengejar target pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dicanangkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Namun, proses administrasi dan penginputan data peserta masih menjadi tantangan utama di lapangan.
Sejak diluncurkan pada Februari 2025, seluruh fasilitas kesehatan di Indonesia didorong untuk memenuhi target layanan CKG. Meski demikian, proses validasi data kependudukan dan pencatatan peserta dinilai masih cukup menyita waktu sehingga memengaruhi capaian program.
Kepala Puskesmas Gunung Samarinda, dr Petty Ariani, mengatakan kendala yang paling sering ditemui adalah ketidaksesuaian data kependudukan saat proses registrasi.
"Yang sering terjadi itu Nomor Induk Kependudukan (NIK) tidak sesuai dengan data yang kami daftarkan. Kadang-kadang NIK di KTP sudah benar, tetapi saat diinput ke sistem muncul keterangan NIK tidak terdaftar atau tidak sesuai dengan nama. Hal-hal seperti itu cukup sering terjadi," ujarnya kepada Kaltim Post, Selasa (28/7).
Selain persoalan validasi data, antusiasme masyarakat untuk mengikuti CKG juga mulai menurun. Pada awal pelaksanaan program, layanan ini banyak dimanfaatkan warga, terutama saat bertepatan dengan hari ulang tahun mereka. Namun, jumlah peserta perlahan mengalami penurunan.
Untuk meningkatkan capaian program, seluruh pemeriksaan kesehatan yang memenuhi kriteria kini turut dicatat sebagai layanan CKG melalui aplikasi yang disediakan pemerintah.
Meski begitu, proses penginputan data ke dalam sistem tidak bisa dilakukan secara instan. Sebelum menjalani pemeriksaan, setiap peserta wajib mengisi skrining mandiri yang berisi sejumlah pertanyaan mengenai kondisi kesehatan dan riwayat pribadi.
"Peserta sebenarnya diarahkan untuk mengisi skrining mandiri sendiri karena mereka yang paling mengetahui kondisi masing-masing, misalnya sudah menikah atau belum. Ada juga pertanyaan terkait riwayat hubungan seksual yang bertujuan mendeteksi risiko penyakit menular seksual jika memang ada keluhan," jelas Petty.
Dalam praktiknya, banyak peserta yang kurang teliti saat mengisi formulir atau mengalami kesulitan memahami sejumlah pertanyaan. Akibatnya, tenaga kesehatan harus membantu mengisi kembali data tersebut.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




