Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Puskesmas Gunung Samarinda Ungkap Kendala CKG, Input Data Bikin Target Belum Maksimal

A
Penulis: Ainur Rofiah❯
Puskesmas Gunung Samarinda  terus berupaya mengejar target Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). (AINUR/KALTIM POST)
Puskesmas Gunung Samarinda terus berupaya mengejar target Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). (AINUR/KALTIM POST)

Advertisement

 

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Puskesmas Gunung Samarinda terus berupaya mengejar target pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dicanangkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Namun, proses administrasi dan penginputan data peserta masih menjadi tantangan utama di lapangan.

Sejak diluncurkan pada Februari 2025, seluruh fasilitas kesehatan di Indonesia didorong untuk memenuhi target layanan CKG. Meski demikian, proses validasi data kependudukan dan pencatatan peserta dinilai masih cukup menyita waktu sehingga memengaruhi capaian program.

Advertisement

Kepala Puskesmas Gunung Samarinda, dr Petty Ariani, mengatakan kendala yang paling sering ditemui adalah ketidaksesuaian data kependudukan saat proses registrasi.

"Yang sering terjadi itu Nomor Induk Kependudukan (NIK) tidak sesuai dengan data yang kami daftarkan. Kadang-kadang NIK di KTP sudah benar, tetapi saat diinput ke sistem muncul keterangan NIK tidak terdaftar atau tidak sesuai dengan nama. Hal-hal seperti itu cukup sering terjadi," ujarnya kepada Kaltim Post, Selasa (28/7).

Advertisement

Selain persoalan validasi data, antusiasme masyarakat untuk mengikuti CKG juga mulai menurun. Pada awal pelaksanaan program, layanan ini banyak dimanfaatkan warga, terutama saat bertepatan dengan hari ulang tahun mereka. Namun, jumlah peserta perlahan mengalami penurunan.

Untuk meningkatkan capaian program, seluruh pemeriksaan kesehatan yang memenuhi kriteria kini turut dicatat sebagai layanan CKG melalui aplikasi yang disediakan pemerintah.

Meski begitu, proses penginputan data ke dalam sistem tidak bisa dilakukan secara instan. Sebelum menjalani pemeriksaan, setiap peserta wajib mengisi skrining mandiri yang berisi sejumlah pertanyaan mengenai kondisi kesehatan dan riwayat pribadi.

"Peserta sebenarnya diarahkan untuk mengisi skrining mandiri sendiri karena mereka yang paling mengetahui kondisi masing-masing, misalnya sudah menikah atau belum. Ada juga pertanyaan terkait riwayat hubungan seksual yang bertujuan mendeteksi risiko penyakit menular seksual jika memang ada keluhan," jelas Petty.

Dalam praktiknya, banyak peserta yang kurang teliti saat mengisi formulir atau mengalami kesulitan memahami sejumlah pertanyaan. Akibatnya, tenaga kesehatan harus membantu mengisi kembali data tersebut.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

371 Ribu Warga Kaltim Berisiko Stroke! Pemprov Kaltim Perkuat Deteksi Dini Hipertensi Lewat CKG

371 Ribu Warga Kaltim Berisiko Stroke! Pemprov Kaltim Perkuat Deteksi Dini Hipertensi Lewat CKG

Hipertensi picu stroke 371 ribu warga Kaltim. Menkes Budi Gunadi & Dinkes Kaltim guncang Program CKG preventif & fasilitas CT scan.

Hasil CKG di PPU, Obesitas dan Karies Gigi Mendominasi, Ribuan Warga Berisiko Hipertensi

Hasil CKG di PPU, Obesitas dan Karies Gigi Mendominasi, Ribuan Warga Berisiko Hipertensi

Hasil cek kesehatan gratis di PPU 2026 menyimpulkan 10 besar penyakit yang memerlukan penanganan dini.

Kisah Miwa Rukmawati Terbebaskan dari Komplikasi Diabetes Berkat Cek Kesehatan Gratis

Kisah Miwa Rukmawati Terbebaskan dari Komplikasi Diabetes Berkat Cek Kesehatan Gratis

Kisah Miwa atasi komplikasi diabetes lewat Cek Kesehatan Gratis di Samarinda. Dinkes catat 54 ribu warga telah diperiksa.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer