Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Miwa Rukmawati Terbebaskan dari Komplikasi Diabetes Berkat Cek Kesehatan Gratis

Raden Roro Mira Budi Asih
RUTINITAS: Kini kualitas hidup Miwa lebih baik. Keluhan penyakitnya mulai tertangani. Rutinitas berkebun dilakukannya dengan nyaman tanpa beban. (Foto: Roro Mira/KP)
RUTINITAS: Kini kualitas hidup Miwa lebih baik. Keluhan penyakitnya mulai tertangani. Rutinitas berkebun dilakukannya dengan nyaman tanpa beban. (Foto: Roro Mira/KP)

Advertisement

Miwa pernah mengira tubuhnya masih kuat. Kini, ia lebih dekat dengan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat. Gula darahnya mulai terkontrol, merasa lebih sehat. Ia belajar bahwa mengetahui penyakit lebih awal adalah jalan untuk tetap selamat.

RADEN RORO MIRA, Samarinda

KAWANAN bebek bergerombol di sekitar Miwa Rukmawati. Paruh-paruh mereka berebut pakan yang ia taruh di ember kecil, membuat halaman samping rumahnya riuh oleh suara kepakan dan sahutan kecil. Perempuan 55 tahun itu lalu melanjutkan pekerjaan. Menuju kebun jagung seluas satu kavling di depan rumah.

Advertisement

Memetik jagung satu per satu untuk memenuhi pesanan salah satu warung di Pasar Kemuning. Tangannya bergerak cekatan, memilih tongkol jagung paling besar yang siap panen. Tangannya sudah tidak kaku lagi, tanpa rasa nyeri yang dulu membuatnya kesulitan menekuk jemari tangan.

Dua bulan sebelumnya, keluhan kebas dan kaku membuat Miwa sulit melakukan rutinitas tersebut. Bahkan sekadar mengikat rambut, ia merasakan nyeri teramat sangat di jari-jari tangan kanan. Setelah rutin kontrol, dia mendapat jadwal terapi. Selama Agustus, seminggu dua kali, rajin mengunjungi fisioterapi di Rumah Sakit Hermina Samarinda.

“Jadi tangan saya itu kayak pakai sarung tangan, terus ada setrumnya. Cekit-cekit rasanya. Habis itu dibantu sama perawat, kayak diurut-urut. Baru dua mingguan terapi, sudah mulai enak rasanya. Sudah bisa dipakai genggam, sudah enggak terlalu nyeri,” beber Miwa sambil memperlihatkan tangan kanannya dari posisi genggam lalu terbuka, pada Rabu (19/8) siang di kediamannya, Jalan Gunung Tunggal, Loa Bakung.

Advertisement

Perjalanan menuju kondisi itu bermula dari sesuatu yang jauh lebih sederhana, cek kesehatan gratis (CKG). Ia sebenarnya sudah lama tahu jika memiliki gula darah tinggi. Selama bertahun-tahun, ibu tiga anak itu pilih mengonsumsi metformin dan tidak rutin memeriksakan kondisi tubuh.

Ia baru mulai mencari pertolongan ketika tubuh mulai terasa berbeda. Badannya mudah lelah, terutama saat bangun tidur. Kesempatan mengikuti CKG pada akhir 2025 lalu di Puskesmas Loa Bakung akhirnya membuka persoalan yang selama ini dihadapi tanpa pemeriksaan teratur.

Angka yang Tak Terlihat

Hasil pemeriksaan lanjutan pada Januari 2026 menunjukkan kadar gula yang jauh dari normal. Glukosa puasanya mencapai 159 mg/dL, padahal normalnya kurang dari 100 mg/dL. Namun angka yang paling membuka persoalan ada HbA1c, menembus 11,3 persen. “Pantas kalau jalan itu kayak sempoyongan begitu,” sebut Miwa.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Puskesmas Gunung Samarinda Ungkap Kendala CKG, Input Data Bikin Target Belum Maksimal

Puskesmas Gunung Samarinda Ungkap Kendala CKG, Input Data Bikin Target Belum Maksimal

Validasi NIK dan penginputan data yang rumit membuat capaian Cek Kesehatan Gratis di Puskesmas Gunung Samarinda belum optimal.

371 Ribu Warga Kaltim Berisiko Stroke! Pemprov Kaltim Perkuat Deteksi Dini Hipertensi Lewat CKG

371 Ribu Warga Kaltim Berisiko Stroke! Pemprov Kaltim Perkuat Deteksi Dini Hipertensi Lewat CKG

Hipertensi picu stroke 371 ribu warga Kaltim. Menkes Budi Gunadi & Dinkes Kaltim guncang Program CKG preventif & fasilitas CT scan.

Hasil CKG di PPU, Obesitas dan Karies Gigi Mendominasi, Ribuan Warga Berisiko Hipertensi

Hasil CKG di PPU, Obesitas dan Karies Gigi Mendominasi, Ribuan Warga Berisiko Hipertensi

Hasil cek kesehatan gratis di PPU 2026 menyimpulkan 10 besar penyakit yang memerlukan penanganan dini.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer