Lewat NGOPI, Hetifah Dorong Mahasiswa Pendidikan Islam Adaptif di Era AI

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Anggota Komisi VIII DPR RI, Hetifah Sjaifudian, mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) secara cerdas, produktif, dan bertanggung jawab dalam mendukung proses pembelajaran serta pengembangan kompetensi di era digital.
Pesan tersebut disampaikan dalam seminar nasional dan ruang dialog bertajuk Ngobrol Pendidikan Islam (NGOPI) yang berlangsung di Aula Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan, Selasa (27/10).
Kegiatan bertema “Cerdas Berteknologi, Bijak Berinovasi: Peran Mahasiswa di Era Kecerdasan Buatan” ini diikuti sekitar 150 mahasiswa. Program tersebut merupakan bagian dari aspirasi Hetifah melalui program Kementerian Agama Republik Indonesia yang bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI).
Dalam pemaparannya, Hetifah menekankan perkembangan teknologi membuka peluang besar bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan, meningkatkan produktivitas, serta menghasilkan inovasi. Namun, kemajuan tersebut juga menghadirkan tantangan baru bagi dunia pendidikan tinggi dan pasar kerja.
Materi yang disampaikan turut menyoroti tingginya penggunaan AI di Indonesia. Hampir 87 persen pekerja pengetahuan (knowledge worker) disebut telah menggunakan AI dalam pekerjaan, dengan 83 persen di antaranya memanfaatkannya untuk meningkatkan produktivitas.
Di lingkungan perguruan tinggi, transformasi digital juga terus berkembang. Penerapan sistem teknologi informasi dan pembelajaran hibrida menjadi bagian dari perubahan metode pendidikan, sementara teknologi AI generatif mulai dipertimbangkan untuk mendukung proses pembelajaran.
Menghadapi perubahan tersebut, mahasiswa perlu memperkuat sejumlah kompetensi utama, antara lain berpikir kritis, pemecahan masalah, kreativitas, komunikasi, literasi digital, kolaborasi, dan kemampuan beradaptasi.
Hetifah juga mengingatkan bahwa AI sebaiknya ditempatkan sebagai asisten pembelajaran, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir manusia. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu memahami materi perkuliahan, menyusun kerangka penelitian, merangkum bacaan, dan mengembangkan gagasan.
Namun, hasil yang diperoleh tetap harus diverifikasi sebelum digunakan. “Teknologi boleh berkembang sangat cepat, tetapi integritas akademik tidak boleh ditinggalkan,” pesan Hetifah kepada para mahasiswa.
Dia menegaskan, penggunaan AI harus tetap berlandaskan transparansi, akuntabilitas, kejujuran ilmiah, dan etika penelitian. Sejumlah risiko, seperti plagiarisme, informasi yang tidak akurat, referensi palsu, bias algoritma, serta pelanggaran privasi, perlu menjadi perhatian bersama.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




