
KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Peringatan Hari Sumpah Pemuda jadi momentum bagi generasi muda untuk kembali merefleksikan peran dan tanggung jawabnya dalam menentukan arah masa depan bangsa.
Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, pemuda dituntut tidak hanya mengikuti perubahan zaman, tetapi memiliki pemikiran kritis, kreativitas, serta keberanian menghadirkan perubahan.
Pandangan tersebut disampaikan Roro Avrilia Putri Gunawan, konten kreator asal Balikpapan kelahiran 2004. Menurutnya, Sumpah Pemuda tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai peringatan seremonial yang diperingati setiap tahun. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi pengingat bahwa generasi muda memiliki peran besar dalam perjalanan dan masa depan Indonesia.
Dia menilai, tantangan pemuda saat ini berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Jika dahulu perjuangan lebih banyak diwujudkan melalui pergerakan fisik dan perjuangan merebut kemerdekaan, kini generasi muda memiliki ruang yang jauh lebih luas untuk berkontribusi melalui berbagai bidang, termasuk pendidikan, ekonomi kreatif, teknologi hingga industri digital.
"Menurut saya, Sumpah Pemuda bukan sekadar peringatan tahunan. Ini pengingat bahwa generasi muda punya peran besar dalam menentukan masa depan Indonesia," ucapnya.
Roro mengatakan, perkembangan teknologi dan media sosial telah membuka kesempatan bagi anak muda untuk mengekspresikan kemampuan, membangun jejaring, hingga memperkenalkan karya kepada masyarakat yang lebih luas. Bahkan, seseorang kini dapat menciptakan peluang dan mengembangkan potensi tanpa harus berada di pusat industri atau kota besar.
Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan tersendiri. Menurutnya, menjadi pemuda di era sekarang tidak cukup hanya dengan mengikuti tren, aktif di media sosial atau sekadar menunjukkan eksistensi di ruang digital. Generasi muda perlu memiliki nilai, wawasan, serta kemampuan untuk memilah informasi yang diterima.
Dia menekankan pentingnya membangun pola pikir kritis agar anak muda tidak mudah terbawa arus informasi maupun terjebak dalam budaya mengejar pengakuan di media sosial. Sebab, popularitas dan jumlah pengikut bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seseorang dalam berkarya.
"Di zaman sekarang, menjadi pemuda bukan hanya soal mengikuti tren atau aktif di media sosial. Kita juga perlu punya pemikiran kritis, berani berkarya, terbuka terhadap perubahan, dan mampu membawa dampak positif bagi sekitar," tuturnya.
Sebagai bagian dari generasi muda yang berkecimpung di dunia konten kreatif, Roro melihat ruang digital dapat menjadi sarana untuk menyampaikan gagasan sekaligus mengembangkan kreativitas. Akan tetapi, menurutnya, setiap anak muda perlu memahami bahwa kebebasan berekspresi juga harus diimbangi dengan tanggung jawab.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




