Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ramalan Harga Emas di Tengah Perang Dagang dan Gejolak Global Pekan Ini

D
Penulis: Dwi Puspitarini❯
Ilustrasi emas batangan.
Ilustrasi emas batangan.

KALTIMPOST.ID, Ketidakpastian global kembali mendorong emas ke panggung utama. Di tengah memanasnya konflik geopolitik dan tekanan ekonomi internasional, logam mulia kembali dipilih sebagai aset aman oleh investor hingga bank sentral dunia.


Advertisement

Bahkan harga logam mulia diramalkan bisa menembus level hingga Rp 2,82 juta per gram.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai potensi kenaikan harga emas masih terbuka lebar dalam waktu dekat.

Menurutnya, kondisi global yang penuh risiko membuat emas kembali menjadi pelindung nilai yang paling dicari.

“Ada kemungkinan besar harga logam mulia itu di Rp2.820.000 per gram jika menembus level resistance kedua,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (18/1/2026).

Ia menjelaskan, harga emas dunia tercatat US$ 4.595 per troy ons pada penutupan perdagangan terakhir.

Advertisement

Sementara itu, harga logam mulia di dalam negeri berada di kisaran Rp 2,68 juta per gram. Pergerakan selanjutnya, kata Ibrahim, sangat bergantung pada dinamika global yang masih panas.

Jika tekanan global terus meningkat dan harga emas dunia menguat, Ibrahim memperkirakan emas bisa menembus US$ 4.655 per troy ons dan mendorong harga logam mulia domestik mendekati Rp 2,7 juta per gram.

Bahkan, dalam skenario lanjutan, harga emas dunia di level US$ 4.706 per troy ons, harga logam mulia berpeluang bisa menyentuh Rp 2,82 juta per gram.

Namun, ia juga mengingatkan adanya risiko koreksi apabila sentimen pasar berubah.

Dalam skenario penurunan, harga emas dunia berpotensi turun ke kisaran US$ 4.553 hingga US$ 4.489 per troy ons, dengan harga logam mulia domestik berada di rentang Rp 2,56 juta–Rp 2,63 juta per gram.

Menurut Ibrahim, fluktuasi harga emas saat ini bukan tanpa sebab. Salah satu pemicunya adalah ketegangan perang dagang antara Uni Eropa dan China.

Kebijakan tarif impor yang tinggi produk alumina dari China sebesar 88,7% hingga 110,6%. China diprediksi akan melakukan balasan serupa pekan depan dinilai berpotensi memicu aksi balasan dan memperbesar ketidakpastian ekonomi global.

Di sisi lain, kondisi geopolitik Timur Tengah juga menambah tekanan pasar. Situasi di Iran yang semakin mencekam, ditambah kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan tersebut, membuat investor cenderung menghindari aset berisiko.

Tak kalah penting, aksi bank sentral global yang mulai memborong emas turut memperkuat tren kenaikan harga.

“Bank sentral China, India, Amerika Latin, hingga negara-negara ASEAN berlomba-lomba membeli logam mulia. Mereka menilai kondisi global sudah gawat,” jelas Ibrahim.

Selain faktor global, pelemahan nilai tukar rupiah juga menjadi pendorong kenaikan harga emas di dalam negeri.

“Pelemahan mata uang rupiah membuat harga logam mulia terus mengalami kenaikan,” pungkasnya.

Dengan kombinasi tekanan geopolitik, kebijakan ekonomi global, dan pergerakan mata uang, emas kembali menegaskan perannya sebagai aset pelindung di tengah dunia yang belum stabil.***

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Harga Emas Antam Kian Tertekan, Simak Daftar Harga Terkini di Akhir Pekan

Harga Emas Antam Kian Tertekan, Simak Daftar Harga Terkini di Akhir Pekan

Harga emas Antam anjlok ke Rp2.526.000/gram dan buyback turun Rp65rb per 31/10/2026. Suku bunga tinggi global gerus daya tarik logam mulia.

Konsolidasi Wilayah FORSEPSI 2026, Sampah Jadi Jalan Menabung Emas   

Konsolidasi Wilayah FORSEPSI 2026, Sampah Jadi Jalan Menabung Emas  

Sampah rumah tangga berpotensi memberikan manfaat ekonomi apabila dipilah dan dikelola dengan baik.

Harga Emas Dunia Jebol ke Bawah US$ 4.000, Catat Rekor Pelemahan Mingguan Terdalam

Harga Emas Dunia Jebol ke Bawah US$ 4.000, Catat Rekor Pelemahan Mingguan Terdalam

Harga emas anjlok di bawah US$4.000 per ons akibat lonjakan harga energi dan proyeksi suku bunga tinggi The Fed. Kerugian mingguan 4%.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer