Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Lima Badai Global Mengintai Ekonomi Dunia hingga 2027, BI Ingatkan Indonesia Waspada

Raden Roro Mira Budi Asih


Advertisement

Lanskap ekonomi global memasuki fase paling rentan dalam satu dekade terakhir. Ada lima gejolak besar yang akan membayangi perekonomian pada 2026-2027.
Lanskap ekonomi global memasuki fase paling rentan dalam satu dekade terakhir. Ada lima gejolak besar yang akan membayangi perekonomian pada 2026-2027.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA
– Ketidakpastian ekonomi internasional kembali mencuat ke permukaan. Dalam beberapa tahun ke depan, arah perekonomian dunia diperkirakan tidak berjalan mulus akibat tekanan eksternal yang kian kompleks.

Di tengah dinamika tersebut, Indonesia didorong untuk meningkatkan kewaspadaan. Terlebih, berbagai sinyal kerentanan global mulai terlihat dan menyita perhatian banyak negara.

Advertisement

Pada pertengahan paparan Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) yang digelar secara hybrid di Aula Maratua, Kantor Perwakilan BI Kaltim, Jumat (28/11) malam, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengingatkan bahwa lanskap ekonomi global sedang memasuki fase paling rentan dalam satu dekade terakhir.

Ia menyebut lima badai besar yang berpotensi membayangi hingga 2026–2027.

Gejolak pertama, kata Perry, disebabkan oleh kebijakan tarif Amerika Serikat yang semakin proteksionis. Situasi tersebut menekan perdagangan global dan melemahkan multilateralisme.

Advertisement

“Yang bangkit justru bilateral dan regionalisme,” ujarnya. Negara-negara kini dituntut beradaptasi dengan pola dagang yang makin terfragmentasi.

Risiko kedua muncul dari perlambatan ekonomi negara besar seperti AS dan Tiongkok, sementara penurunan inflasi global masih berjalan lambat.

Hal itu membuat banyak bank sentral kesulitan menentukan arah suku bunga.

Risiko ketiga adalah beban fiskal negara maju yang dinilai terlalu besar sehingga memicu suku bunga tinggi dan menekan negara berkembang.

Kondisi global kian rumit memasuki risiko keempat. Perry menyebut kerentanan sistem keuangan dunia meningkat akibat melonjaknya transaksi produk derivatif, terutama yang dikelola hedge fund berbasis algoritma.

Arus modal menjadi lebih sensitif dan mudah terpengaruh gejolak.

Risiko kelima datang dari maraknya aset kripto dan stablecoin yang hingga kini belum memiliki kerangka pengaturan yang jelas.

Seluruh risiko tersebut, menurut Perry, membawa dampak langsung bagi negara berkembang, termasuk Indonesia.

Karena itu, upaya menjaga stabilitas nilai tukar, memperkuat cadangan devisa, dan mempererat koordinasi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan terus ditingkatkan.

“Kita bersyukur ekonomi nasional masih berdaya tahan. Kuncinya hanya satu, sinergi,” tegasnya.

Ia menilai, kekuatan konsumsi, stabilitas harga, dan pesatnya digitalisasi menjadi faktor yang membantu Indonesia mempertahankan pertumbuhan.

Namun, ia mengingatkan bahwa periode 2026–2027 tetap menuntut kewaspadaan tambahan karena ketidakpastian global belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

“Stabilitas yang dinamis menjadi syarat agar rakyat mendapat manfaat,” tutupnya. (*)

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Tips Ahli Mencegah Kanker Payudara, 40-60 Persen Risiko Bisa Ditekan

Tips Ahli Mencegah Kanker Payudara, 40-60 Persen Risiko Bisa Ditekan

Gaya hidup sehat dan deteksi dini mampu tekan risiko kanker payudara hingga 60%, ungkap pakar onkologi Dr. dr. Sonar Soni Panigoro.

Sering Makan Mi Instan? Waspadai 12 Bahaya Tersembunyi Ini bagi Tubuh

Sering Makan Mi Instan? Waspadai 12 Bahaya Tersembunyi Ini bagi Tubuh

Waspadai 12 bahaya sering makan mi instan bagi kesehatan. Imbangi dengan protein dan sayuran agar asupan nutrisi tubuh tetap seimbang.

Inflasi Kaltim Diprediksi Naik pada Triwulan III, Pasokan Pangan dan Permintaan Jadi Risiko

Inflasi Kaltim Diprediksi Naik pada Triwulan III, Pasokan Pangan dan Permintaan Jadi Risiko

BI Kaltim prediksi inflasi naik pada triwulan III 2026. Simak faktor risiko pasokan pangan, permintaan agenda nasional, dan antisipasinya.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer