
KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Peluang untuk terhindar dari kanker payudara ternyata cukup besar melalui upaya pencegahan mandiri. Pakar onkologi Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, SpB, Subsp. Onk (K) menyatakan bahwa risiko penyakit ini bisa ditekan sebesar 40 hingga 60 persen dengan gaya hidup sehat.
"Masih bisa dicegah, bisa 40 sampai 60 persen," ujar Sonar dalam kegiatan temu media bersama Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan, pada Senin (26/10/2026). Ia menekankan bahwa faktor gaya hidup memiliki pengaruh yang jauh lebih dominan dibandingkan sekadar faktor genetik.
Langkah konkret yang disarankan adalah berhenti merokok, baik aktif maupun pasif, yang berkontribusi 20 persen dalam menekan risiko kanker. Selain itu, masyarakat diimbau untuk rutin berolahraga minimal 1,5 jam setiap minggu untuk menjaga kebugaran tubuh.
Sonar juga menyoroti pentingnya pola makan seimbang dengan membatasi asupan manis, gorengan, dan daging olahan. Bagi kaum ibu, menyusui anak minimal selama empat bulan juga menjadi langkah krusial untuk menurunkan risiko terkena kanker payudara.
Selain gaya hidup, deteksi dini melalui metode SADARI atau periksa payudara sendiri sangat dianjurkan. Praktik ini sebaiknya dilakukan rutin setiap bulan, tepatnya pada 7 hingga 10 hari setelah hari pertama menstruasi.
Untuk skrining yang lebih akurat, Sonar menyarankan masyarakat tidak perlu menunggu usia 30 tahun. Pemeriksaan seperti USG dapat dilakukan sejak seseorang mulai memasuki masa akil balig atau setelah menstruasi pertama.
"Bahkan, 80 persen benjolan di payudara tanpa keluhan, tanpa adanya rasa sakit," tambah Sonar mengenai pentingnya deteksi medis. Ia menjelaskan bahwa semakin cepat terdiagnosis, penanganan akan jauh lebih mudah, murah, serta memiliki peluang kesembuhan yang lebih tinggi.(*)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




