Pasar Murah Digelar Puluhan Kali di Balikpapan, Harga Komoditas Ini Masih Rawan Naik

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN — Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Balikpapan memperluas intervensi pasar untuk menjaga harga pangan. Hingga Agustus 2026, Gerakan Pangan Murah (GPM) telah digelar sebanyak 87 kali, termasuk tujuh pelaksanaan sepanjang Agustus.
Frekuensi intervensi tersebut menjadi salah satu bagian dari strategi pemerintah daerah bersama Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Balikpapan untuk menjaga keterjangkauan harga di tengah dinamika pasokan pangan.
Kepala KPwBI Balikpapan Robi Ariadi mengatakan pengendalian inflasi dilakukan melalui sinergi berbagai program, mulai pemantauan harga, stabilisasi pasar hingga penguatan pasokan antardaerah.
"Sejumlah langkah strategis dalam pengendalian inflasi daerah terus ditempuh untuk mendukung kelancaran pasokan dan distribusi, serta terjaganya ketersediaan stok komoditas pangan strategis," ucap Robi, Jumat (11/9).
Upaya tersebut menunjukkan bahwa stabilisasi harga tidak hanya mengandalkan satu instrumen. Di Balikpapan, GPM menjadi salah satu instrumen yang paling intensif digunakan. Sepanjang Agustus saja, tujuh kegiatan GPM dilaksanakan untuk membantu menjaga keterjangkauan harga pangan masyarakat.
Sementara TPID Kabupaten PPU telah melaksanakan 27 kali GPM, Pasar Murah maupun Operasi Pasar, termasuk empat kali sepanjang Agustus. "Intervensi pasar tersebut berjalan bersamaan dengan Operasi Pasar LPG 3 kilogram serta optimalisasi Kios GESIT dan Kios Penyeimbang," sebutnya.
Di sisi lain, TPID juga mulai memperkuat strategi dari sisi produksi. Contohnya, peningkatan produktivitas dan penerapan Good Agricultural Practice (GAP) dilakukan melalui Tani Camp, Gerakan Tanam Cabai serta pemanfaatan pekarangan di PPU dan Balikpapan.
Strategi tersebut menjadi penting karena tekanan inflasi pangan tidak hanya muncul akibat permintaan yang tinggi, tetapi juga perubahan produksi dan kelancaran pasokan. Pada Agustus, misalnya, Balikpapan memang mencatat deflasi 0,03 persen. Namun kelompok makanan, minuman dan tembakau masih memberikan andil inflasi sebesar 0,18 persen.
Baca Juga: Puluhan Tenant Ramaikan Pasar Murah Mahligai Nusantara, Perumda Pangkas Harga Beras dan Telur
Ikan layang, cabai rawit, kacang panjang, jagung manis dan ketimun menjadi komoditas yang mendorong kenaikan harga. Situasi berbeda terjadi pada sejumlah komoditas lain. Bawang merah dan tomat justru mengalami penurunan harga karena pasokan dari sentra produksi meningkat seiring masuknya periode panen.
"Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa stabilitas harga sangat dipengaruhi oleh keseimbangan pasokan komoditas. Karena itu, TPID juga mengembangkan strategi pengamanan pasokan melalui Kerja Sama Antardaerah (KAD)," ucapnya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!



