
KALTIMPOST.ID - Di balik deretan kain etnik dan aroma kriya, tersimpan kerja senyap para perajin lokal yang kini berani melompat ke panggung digital. Pemilik Dame Ulos asal Tarutung, Tapanuli Utara, Renny Katrina Manurung mengatakan, wastra dan kerajinan tradisional tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai cendera mata atau produk budaya.
“Potensi ekonominya justru dapat diperbesar apabila pelaku usaha mampu mengemas cerita, kualitas dan identitas produk menjadi sesuatu yang relevan dengan konsumen masa kini," pesannya saat membagikan pengalamannya di hadapan puluhan perajin wastra Balikpapan dalam Workshop Digital Mahligai Nusantara 2026, di Balikpapan Sport and Convention Center (BSCC) Dome.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari itu persembahan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan. Kegiatan yang menyisakan potret nyata kebangkitan pelaku usaha lokal. Getar pesan tersebut dirasakan langsung oleh Yuni Rachmawati, pemilik jenama Iwatik Balikpapan.
Baca Juga: Kisah Widodo dan Ikhtiar BI Balikpapan Hidupkan Mesin Ekonomi Umat, Jaga Denyut Kemandirian Pangan
Dari rumah sederhana di kawasan Jalan RE Martadinata, Yuni memilih merangkul para lansia di lingkungan sekitar untuk menggoreskan canting batik dan memproduksi lembaran kain bernilai ekonomi.
"Kita memberdayakan ibu-ibu di sekitar rumah, kita kumpulkan, diajari dan dibina. Hasil batiknya nanti diserahkan ke kita untuk dijual dan bagian keuntungannya kita berikan kepada mereka," ungkap Yuni saat ditemui di arena pameran.
Meski melibatkan tangan-tangan renta untuk proses pencantingan, Yuni memilih membidik generasi muda sebagai target pasar utama. Ia menyiasati desain batik dengan warna-warna terang dan cerah yang diolah menjadi busana siap pakai (ready to wear).
Langkah ini diambil lantaran banyak calon pembeli kerap mengeluhkan kesulitan mencari penjahit yang cocok jika hanya membeli kain batangan. Produk busana siap pakai buatannya dipatok pada kisaran harga Rp 350 ribu hingga Rp 700 ribu per potong.
Selain pakaian jadi, kegemaran bepergian menginspirasi Yuni merancang tas jinjing dan koper kain etnik ramah pelancong dengan rentang harga Rp 300 ribu hingga Rp 750 ribu. Produk tas ini laris manis diburu para pelancong yang singgah di stan yang dia dirikan di hotel berbintang di Balikpapan sebagai hadiah.
"Kalau kain batik cap kami lepas Rp 400 ribu, sementara batik tulis jenis prada bisa mencapai Rp 3 jutaan. Tas pelancong juga lahir karena keresahan pribadi saat bepergian yang ternyata diminati banyak pendatang," kata Yuni menambahkan.
Pemerintah Kota Balikpapan menyadari betul bahwa bakat seni para perajin wastra membutuhkan sentuhan manajerial modern agar berdaya tahan lama. Ketergantungan perajin pada pesanan dinas atau pameran musiman perlahan mulai dikikis lewat program pembinaan kurasi produk.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




