133 Kali Gerakan Pangan Murah Digelar di Kaltim, Beras SPHP Tembus 4.690 Ton

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Kaltim Jajang Hermawan mengatakan, pengendalian inflasi pangan dilakukan melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Strategi tersebut diarahkan untuk menjaga keterjangkauan harga sekaligus memastikan ketersediaan komoditas strategis di masyarakat.
Salah satu langkah yang ditempuh ialah menggelar Gerakan Pangan Murah dan Pasar Murah. Sepanjang April-Juni 2026, kedua program tersebut terlaksana sebanyak 133 kali di berbagai wilayah Kaltim.
"Penyaluran beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) oleh Perum Bulog mencapai 4.690.490 kilogram atau sekitar 4.690 ton hingga Juni 2026," sebut Jajang. Intervensi tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga pasokan beras sekaligus menahan tekanan harga di tingkat konsumen.
Jajang menjelaskan, pengendalian inflasi tidak cukup hanya mengandalkan intervensi harga ketika gejolak terjadi. Pemerintah daerah dan TPID juga perlu mengantisipasi potensi kenaikan harga melalui pemetaan komoditas serta penyusunan langkah tindak lanjut.
“Sejak tahun 2025, TPID Provinsi Kaltim menginisiasi MANDAU (Mekanisme Pengendalian Komoditas Utama) yang mengendalikan inflasi secara preventif dan kuratif,” jelasnya. Melalui mekanisme tersebut, TPID turut melakukan asesmen proyeksi inflasi untuk menghasilkan rekomendasi pengendalian ke depan. Langkah ini ditujukan agar inflasi tetap berada dalam sasaran nasional 2,5 persen plus-minus 1 persen.
Selain intervensi pasar dan pemantauan harga, penguatan pasokan juga ditempuh melalui kerja sama antar daerah (KAD). Skema ini menjadi penting mengingat Kaltim bukan merupakan daerah sentra produksi untuk sejumlah komoditas pangan.
Kerja sama dilakukan dengan sejumlah daerah pemasok, antara lain Kabupaten Ngawi, Kota Batu, serta Kota dan Kabupaten Enrekang. Kaltim juga menjalin kerja sama dengan Provinsi Gorontalo untuk mendukung pasokan berbagai komoditas, mulai beras, telur ayam, sayur, buah, hingga daging sapi.
Melalui kombinasi intervensi harga, pemetaan risiko inflasi, dan penguatan pasokan, pengendalian inflasi diharapkan tidak hanya meredam gejolak sesaat, tetapi juga menjaga stabilitas harga pangan secara berkelanjutan. (*)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




