BONTANG- Sebelumnya, unit bisnis di Daarul Hikmah Boarding School (DHBS) berjalan dengan konsep koperasi. Seiring waktu semakin dikembangkan dan kini berjalan tiga usaha. Minimarket dengan pangsa pasar santri dan umum, seragam sekolah serta penatu (laundry).
Usaha minimarket yang dikembangkan terus berjalan sejak 2017. Namun, mandek akibat pandemi pada 2020. Sebab, tidak adanya kegiatan belajar mengajar (KBM). Aktivitas santri juga tidak banyak.
“Namanya jual produk pasti ada expired, jadi mau enggak mau harus dijual harga modal. Kemudian, sempat vakum karena barang habis. Akhirnya mulai lagi ketika KBM mulai ada lagi, dengan beberapa perbaikan,” beber Manajer Unit Bisnis Berkah Mart DHBS Bontang Kaharudinsyah Leon Sakti.
Sebelumnya, sudah ada unit bisnis penjualan seragam santri, semenjak Berkah Mart mulai aktif kembali pascapandemi, unit bisnis minimarket dan seragam dijadikan satu.
“Dalam rangka untuk pelayanan kepada santri. Bisnis retail makanan dan minuman serta kebutuhan lain, masih terbatas omzetnya kala itu. Akhirnya 2023 kemarin ada program inkubasi bisnis dari Kementerian Agama. Diperuntukkan untuk sekitar kuota 1.500 pondok pesantren se-Indonesia,” lanjut dia.
Pengajuannya dimulai dari syarat administratif. Utamanya, tentang legalitas pondok pesantren. Dijelaskan Leon, jika di Bontang ada sekitar empat pondok pesantren yang mengajukan. Namun dari sisi administratif, hanya DHBS yang lolos.
Selanjutnya, diminta membuat business plan dengan dua kategori. Pertama, yakni menjalankan bisnis yang sudah ada sebelumnya, atau baru memulai. Leon membuat perencanaan usaha dari Berkah Mart yang sudah ada.
“Lebih ke pengembangan. Kita membuka akses pasar untuk umum, dulu target pasarnya hanya santri. Ada dua minimarket, di Kelurahan Tanjung Laut tempat santri putri. Ada dua pintu, pintu santri dari dalam dan satu pintu untuk umum. Lalu, di Bontang Lestari tempat santri putra,” paparnya.
Memperluas unit bisnis. Juga pemberdayaan dengan usaha penatu. Khusus di Tanjung Laut, bermitra dengan masyarakat sekitar yang memiliki usaha serupa. “Jadi santri laundry ke Berkah Mart, dan kami kerja sama dengan pihak ketiga masyarakat sekitar. Agar dari sisi kebermanfaatan juga terasa. Sedangkan untuk di Bontang Lestari, unit usaha berdiri sendiri,” sambungnya.
Diakui jika prosesnya tak serta-merta setelah lolos administrasi dan perencanaan usaha langsung mendapat bantuan. Bagaimana saat presentasi mampu memaparkan bagaimana prospek bisnis ke depannya.
Tak semua anggaran awal disetujui. “Dapatnya Rp 140 juta. Awalnya lebih dari itu pengajuannya. Jadi modal yang ada diarahkan untuk fasilitas seperti rak, untuk operasional. Karena dari 1.500 pondok pesantren, yang masuk di tahap dua untuk detail dan kapasitas usaha hanya sekitar 1.300 saja. Jadi, memang benar-benar harus sesuai,” kata dia.
Sebab dari bantuan inkubasi bisnis tahun sebelumnya, dari sisi monitoring dan evaluasi, terdapat beberapa kendala. Seperti laporan pertanggungjawaban yang kurang sesuai dan tidak tepat sasaran.
Saat ini, minimarket yang dikelola juga sudah bekerja sama dengan berbagai pihak. Termasuk UMKM. Dengan sistem konsinyasi atau titip. Leon menyebut, jika pihaknya terbuka terhadap berbagai peluang ke depan. Untuk lebih membantu kemandirian pesantren, juga sudah dipikirkan matang-matang peluang dan potensi lainnya. Termasuk membuat mini konveksi.
“Kayak seragam itu kan masih ambil dari luar, ada wacana mau buat konveksi. Minimal kebutuhan seragam internal di DHBS mulai jenjang TK sampai SMA itu terpenuhi. Sebab, kebutuhan seragam cukup besar. Kalau prospek bagus, bisa untuk memenuhi kebutuhan seragam sekolah lain. Sudah masuk di perencanaan ke depan,” tutupnya. (ndu/k15)
RADEN RORO MIRA
Editor : Nugroho Pandu Cahyo