KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Tak banyak yang menyangka bahwa komoditas seperti damar batu kini ikut berbicara di kancah ekspor Kalimantan Timur. Di tengah dominasi batu bara yang tak kunjung surut, keberhasilan ekspor damar batu menjadi kilasan kecil namun kuat bahwa struktur ekonomi Kaltim mulai berubah.
Asisten II Bidang Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Kaltim, Ujang Rahmad menyebut, ini sebagai bukti bahwa pasar global kini lebih terbuka bagi produk-produk non-ekstraktif asal daerah.
“Ekspor damar batu memberikan sinyal kuat bahwa UMKM kita memiliki potensi besar di luar sektor batu bara dan migas. Dan yang lebih penting, pelaku usaha kita mampu memenuhi standar kualitas di pasar global,” tegasnya.
Menurutnya, capaian ini tidak datang tiba-tiba. Ekosistem ekspor yang semakin matang berkat pendampingan berkelanjutan dari Export Center Balikpapan mulai membuahkan hasil.
“Ternyata ekosistem ekspor kita semakin matang di Kalimantan Timur. Kalau kita tidak memenuhi standar kualitas, tentu saja kita tidak bisa masuk pasar ekspor,” ujarnya.
Namun di balik kabar baik itu, data menunjukkan tantangan besar yang masih mengintai. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kaltim mencatat nilai ekspor September 2025 turun 8,23 persen menjadi 1,678 miliar dolar. Penurunan terjadi baik di sektor migas maupun nonmigas, dengan kontraksi kumulatif Januari–September 2025 mencapai 14,67 persen secara tahunan.
Sektor nonmigas masih didominasi batu bara, menyumbang 91,29 persen ekspor. Padahal di sisi lain, komoditas lain seperti produk kimia mulai menunjukkan tren peningkatan, sementara kelompok lemak dan minyak nabati justru anjlok 57,74 persen.
Di sektor pertanian, nilai ekspor mencapai 2,24 juta dolar pada September—naik 54,48 persen dibandingkan bulan sebelumnya, namun masih turun 27,74 persen secara tahunan. Meski surplus perdagangan tetap terjadi, nilainya menurun 278,54 juta dolar dibandingkan bulan sebelumnya.
Ujang menegaskan, justru pada saat sektor utama melambat, peluang diversifikasi harus digenjot. “Kita sedang melampaui ketergantungan pada sektor ekstraktif. Pemerintah provinsi terus memperkuat iklim usaha, memperbaiki logistik, dan memastikan rantai komoditas lokal mampu menembus pasar internasional,” tuturnya.
Ia menambahkan, diversifikasi bukan hanya soal mencari komoditas baru, melainkan memperbaiki fondasi ekonomi jangka panjang. “Ini bagian dari komitmen kita menuju Generasi Emas, di mana Kaltim harus menjadi provinsi yang produktif, kompetitif, dan inklusif,” kata Ujang. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo