KALTIMPOST.ID, JAKARTA-Sektor perkebunan Indonesia diproyeksikan bakal mencatat pertumbuhan kuat pada pembukaan tahun 2026.
Optimisme ini muncul menyusul performa impresif sepanjang tahun 2025, di mana deretan komoditas unggulan seperti minyak kelapa sawit, kopi, kakao, dan kelapa menunjukkan tren kenaikan yang signifikan.
Minyak kelapa sawit (CPO) masih menjadi tulang punggung perolehan devisa. Berdasarkan data sepanjang Januari hingga Desember 2025, nilai ekspor sawit dan produk turunannya menyentuh angka US$ 24,42 miliar, atau tumbuh sebesar 21,83 persen dibandingkan tahun 2024.
Lonjakan ini dipicu oleh kenaikan volume pengiriman sebesar 9 persen secara tahunan serta terjaganya harga komoditas nabati global.
Permintaan solid dari pasar tradisional seperti Tiongkok, India, dan negara-negara Asia lainnya memperkokoh posisi sawit sebagai penyumbang devisa terbesar.
Baca Juga: Seno Aji Temui Ikapakarti Paser, Pesan Filosofi Keris Jadi Sorotan
Di sisi lain, komoditas kopi melanjutkan "kisah sukses" setelah sempat terpuruk pada 2023. Indonesia, yang kini menempati posisi produsen kopi terbesar keempat dunia, mencatatkan nilai ekspor tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Keberhasilan ini tidak hanya didorong oleh volume, tetapi juga strategi peningkatan nilai tambah melalui kopi specialty seperti produk premium dari Gayo, Toraja, dan Kintamani yang sangat diminati pasar Amerika Serikat dan Eropa.
Sektor kakao muncul sebagai "bintang baru" pada 2025. Melalui kebijakan hilirisasi, struktur ekspor bergeser dari biji mentah ke produk olahan seperti cocoa butter dan cocoa powder. Nilai ekspornya pun melesat hampir 70 persen menjadi US$ 2,8 miliar per September 2025.
Baca Juga: CPNS 2026 Bikin Deg-degan! Pemerintah Belum Berikan Lampu Hijau, Ternyata Masih Fokus ke Masalah Ini
Performa serupa juga terlihat pada komoditas kelapa yang membukukan nilai ekspor US$ 2,48 miliar. Tiongkok tetap menjadi mitra strategis dengan menyerap lebih dari 17 persen total ekspor kelapa nasional.
Memasuki 2026, pasar kelapa Indonesia diprediksi makin ekspansif dengan menyasar wilayah Timur Tengah, Asia Selatan, hingga Afrika.
Tantangan Logistik dan Regulasi Global
Kendati mayoritas komoditas menguat, sektor karet dan teh masih menghadapi dinamika yang menantang.
Karet cenderung stagnan akibat fluktuasi harga global dan hambatan iklim, sementara teh menghadapi penurunan luas kebun secara struktural.
Selain faktor cuaca, tantangan utama di tahun 2026 adalah ketatnya regulasi internasional. Implementasi European Union Deforestation-free Regulation (EUDR) menuntut kepastian produk yang bebas deforestasi dan dapat ditelusuri (traceable).
Baca Juga: Usai Diperiksa 24 Jam, Bahar bin Smith Tak Ditahan, Polisi Kabulkan Penangguhan Penahanan
“Dukungan melalui perjanjian dagang seperti RCEP dan Indonesia–Australia CEPA, digitalisasi layanan, serta penguatan hilirisasi menjadi kunci agar momentum pertumbuhan ini tetap terjaga,” ungkap analisis dalam laporan tersebut.
Stabilitas produksi dalam negeri dan nilai tukar rupiah yang kompetitif diharapkan mampu menekan biaya logistik yang masih tinggi, sehingga sektor perkebunan tetap memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan petani dan pemulihan ekonomi nasional secara berkelanjutan.(*)
Editor : Almasrifah