Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Tertinggi di Kaltim! Ekonomi Balikpapan Tumbuh 10,24 Persen

Ulil Mu'Awanah • Rabu, 4 Maret 2026 | 19:59 WIB

Dosen dan Peneliti STIE Balikpapan Bambang Saputra.
Dosen dan Peneliti STIE Balikpapan Bambang Saputra.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Sebagai pusat ekonomi dan bisnis di Kawasan Timur Indonesia, Balikpapan kembali menunjukkan pencapaian kinerja ekonomi yang luar biasa dengan tumbuh tertinggi di Kaltim dan mencatatkan angka double digit pada 2025.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Balikpapan tumbuh secara tahunan sebesar 10,24 persen, jauh di atas rata-rata pertumbuhan Kaltim yang sebesar 4,53 persen dan pertumbuhan nasional yang berada di level 5,11 persen.

Jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya di Kaltim, Balikpapan menjadi satu-satunya daerah yang sukses tumbuh dua digit dan berhasil melampaui target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo.

Performa impresif ini menempatkan Balikpapan jauh di depan daerah lain di wilayah Kalimantan Timur. Adapun data pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota di Kaltim pada 2025 selain Balikpapan yakni PPU 6,52 persen, Samarinda 6,22 persen, Kutai Barat 5,46 persen, Mahakam Ulu 5,11 persen, Paser 3,61 persen, Bontang 3,21 persen, Berau 2,48 persen dan Kutai Timur 1,05 persen.

Capaian ini turut mendongkrak kontribusi ekonomi Balikpapan terhadap Kaltim ke posisi kedua dengan pangsa (share) sebesar 19,03 persen. Posisi ini berada tepat di bawah Kutai Kartanegara (23,68 persen), namun melampaui Kutai Timur (17,19 persen) dan Samarinda (11,98 persen).

Faktor utama di balik pertumbuhan fantastis ini adalah performa sektor industri pengolahan. Secara umum di Kaltim, sektor ini berhasil tumbuh tinggi sebesar 12,68 persen, berbanding terbalik dengan sektor pertambangan yang mengalami kontraksi sebesar 0,11 persen selama tahun 2025. Khusus di Balikpapan, pertumbuhan industri pengolahan dipacu oleh beberapa variabel kunci.

Pertama, normalisasi produksi PT Kilang Pertamina setelah rampungnya proyek RDMP (Refinery Development Master Plan). Kedua, mulai beroperasinya beberapa entitas industri baru, seperti smelter nikel. Ketiga, aktivasi industri pengolahan minyak kelapa sawit (CPO) di wilayah Balikpapan.

Prestasi ekonomi ini menjadi semakin berkualitas karena dibarengi dengan stabilitas harga yang sangat terjaga. Inflasi di Balikpapan sepanjang Januari–Desember 2025 (ytd/yoy) tercatat sebesar 2,71 persen, angka yang berada di bawah rentang target inflasi pemerintah.

Kombinasi antara pertumbuhan double digit dan inflasi yang rendah menunjukkan bahwa Balikpapan tengah berada dalam fase ekspansi ekonomi yang sehat dan terkendali.

Meski mencatatkan angka yang impresif, pemerintah kota perlu mewaspadai risiko overheating economy. Pertumbuhan yang terakselerasi sangat cepat membawa tantangan tersendiri. Pertama, tekanan inflasi, yaitu potensi kenaikan harga barang dan jasa akibat tingginya permintaan (cost-push inflation).

Kedua, kesenjangan sosial, pemerintah harus memastikan pertumbuhan ini bersifat inklusif dan dapat dirasakan oleh pedagang pasar serta pelaku UMKM, bukan hanya korporasi besar. Ketiga, daya dukung lingkungan, migrasi penduduk yang masuk ke Balikpapan memerlukan kesiapan infrastruktur dasar seperti air bersih, sanitasi dan pengelolaan sampah yang lebih modern.

Agar angka pertumbuhan yang tinggi ini tidak hanya terkonsentrasi pada sektor padat modal sementara sektor informal tertinggal, beberapa fokus utama perlu dilakukan. Pertama, penguatan ekonomi kreatif, mendorong diversifikasi agar pertumbuhan tidak didominasi oleh industri besar.

Kedua, infrastruktur urban, memastikan fasilitas publik mampu mengimbangi laju pertumbuhan untuk mencegah biaya hidup yang tinggi (high cost economy). Ketiga, investasi hijau, mengintegrasikan industri pengolahan dengan prinsip berkelanjutan demi menjaga daya saing jangka panjang. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#kinerja ekonomi #bps #pertumbuhan #ekonomi #balikpapan #industri pengolahan