Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Berkah Ramadan: Akselerasi Ekonomi Kaltim di Tengah Gejolak Global

Ulil Mu'Awanah • Rabu, 18 Maret 2026 | 18:59 WIB

Dosen dan Peneliti STIE Balikpapan, Bambang Saputra.
Dosen dan Peneliti STIE Balikpapan, Bambang Saputra.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Ramadan 1447 H tiba membawa semangat dan harapan baru, justru di saat dunia sedang bergejolak. Konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026 memang mengguncang pasar energi global: harga minyak Brent menembus 100 dolar per barel lebih dan rupiah sempat bergerak ke kisaran Rp 17.000 per dolar.

Namun bagi Kaltim sebagai provinsi penghasil migas dan batu bara, lonjakan harga energi global ini sejatinya adalah kabar baik, sebab penerimaan daerah dari sektor sumber daya alam berpotensi melonjak signifikan, memberikan ruang fiskal yang lebih luas untuk menjaga daya beli masyarakat.

Di level nasional, fondasi ekonomi Indonesia terbukti tangguh. Meski inflasi Februari 2026 tercatat 4,76 persen (year on year/yoy) akibat efek pembanding diskon tarif listrik 2025, proyeksi LPEM UI meyakini angka ini akan melandai ke kisaran 3,07–3,51 persen tepat di bulan Maret 2026 (bulan Ramadan penuh).

Pemerintah pun optimistis konsumsi domestik yang menyumbang 54 persen dari PDB tetap menjadi penopang utama, dan target pertumbuhan ekonomi nasional 5,5 persen di 2026 dinilai masih realistis. Ramadan hadir pada momen yang tepat untuk memperkuat keyakinan itu.

Di Kaltim, inflasi Februari 2026 sebesar 4,64 persen (yoy) tercatat lebih rendah dari nasional, cerminan optimalnya Program Tim Pengendali Inlasi Daerah (TPID) yang telah menggelar 75 kali gerakan pangan murah sejak awal tahun.

Strategi 4K yang diterapkan (ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif) terbukti menjaga harga kebutuhan pokok tetap terkendali menjelang Ramadan. Ini adalah modal kepercayaan diri yang nyata: masyarakat Kaltim menjalankan bulan suci ini dengan tenang dan fokus menikmati berkahnya.

Dan berkah itu sungguh nyata secara ekonomi. Selama lima tahun terakhir, triwulan yang dilalui Ramadan selalu menjadi periode pertumbuhan triwulanan tertinggi di Kaltim.

Mesinnya bekerja dari berbagai penjuru sekaligus: THR karyawan swasta dan ASN mendongkrak konsumsi rumah tangga, distribusi zakat dan sedekah menggerakkan ekonomi lapisan bawah, sementara tradisi mudik dan lebaran menghidupkan ritel, kuliner, pariwisata, dan transportasi.

Jika 1,4 juta keluarga muslim di Kaltim rata-rata membelanjakan Rp 3 juta, perputaran uang yang tercipta melampaui Rp 4 triliun, konsisten dengan persiapan Bank Indonesia (Kaltim dan Balikpapan) menyediakan uang tunai baru sebesar Rp 4,39 triliun.

Inilah keistimewaan Ramadan sebagai akselerator ekonomi: kekuatannya tidak bergantung pada fluktuasi harga komoditas global maupun dinamika geopolitik. Konsumsi domestik dan ekosistem UMKM lokal adalah dua mesin pertumbuhan yang sepenuhnya ada di tangan kita.

Gejolak Iran-AS justru memperkuat argumen yang selama ini disuarakan para ekonom: Kaltim harus terus mempercepat hilirisasi dan transformasi ekonomi agar lebih mandiri dan tangguh. Ramadan adalah momen terbaik untuk memulai atau mempercepat langkah itu.

Maka mari kita sambut Ramadan 1447 H ini dengan penuh keyakinan. Pemerintah daerah perlu hadir aktif mendorong festival UMKM, bazar produk lokal, dan promosi wisata religi Kaltim agar putaran uang tetap bergerak di dalam daerah.

Masyarakat pun diajak berbelanja bijak dan mencintai produk lokal. Sebagaimana teladan Nabi Muhammad SAW yang memastikan tak ada anak yatim yang bersedih di momen Idul Fitri. Ramadan selalu menjadi pengingat bahwa dari keberkahan bersama, ekonomi yang kuat dan berkeadilan bisa kita wujudkan. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Ekonomi Kaltim #konflik #Amerika Serikat Iran #ramadan #pasar energi global