Dalam perdagangan terbaru, minyak mentah Brent terkoreksi hingga menyentuh kisaran USD99 per barel, sementara minyak mentah Amerika Serikat juga turun ke level sekitar USD88 per barel. Penurunan ini menjadi salah satu yang terdalam dalam beberapa pekan terakhir.
Tak hanya minyak mentah, harga produk turunannya ikut melemah. Kontrak berjangka diesel dan bensin di Amerika Serikat sama-sama terkoreksi sekitar 9 hingga 10 persen. Meski begitu, secara tahunan harga keduanya masih menunjukkan lonjakan tinggi.
Tekanan juga dirasakan pada komoditas lain. Harga emas dilaporkan turun lebih dari 3 persen, sementara indeks dolar AS ikut melemah tipis. Di sisi berbeda, bursa saham Negeri Paman Sam justru menguat, didorong sentimen positif dari potensi deeskalasi konflik.
Sejumlah analis menilai pasar merespons sinyal penurunan ketegangan di Timur Tengah, meskipun situasi belum sepenuhnya stabil.
Pernyataan dari pihak Iran yang membantah adanya negosiasi dengan AS menjadi salah satu faktor yang masih menahan optimisme investor.
Selain itu, kondisi jalur strategis Selat Hormuz tetap menjadi perhatian. Jalur ini diketahui menjadi rute penting distribusi minyak dunia, sehingga setiap potensi gangguan akan berdampak luas terhadap pasokan global.
Di tingkat konsumen, dampak konflik masih terasa. Harga bahan bakar di Amerika Serikat tercatat terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir dan belum menunjukkan penurunan, meskipun harga minyak mentah mulai terkoreksi. Penyesuaian harga di pasar ritel diperkirakan membutuhkan waktu sebelum benar-benar dirasakan masyarakat.
Editor : Uways Alqadrie