Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

RAPBD Bontang 2027 Diproyeksi Tembus Rp2 Triliun, tapi Rp402,58 Miliar Masih Bergantung DBH

A
Penulis: Adhiel kundhara❯
DENGARKAN: DPRD Bontang menyimak nota keuangan terhadap Raperda APBD 2027 dalam sidang paripurna. ADIEL KUNDHARA/KP
DENGARKAN: DPRD Bontang menyimak nota keuangan terhadap Raperda APBD 2027 dalam sidang paripurna. ADIEL KUNDHARA/KP

Advertisement

KALTIMPOST.ID, BONTANG - Angka Rp2 triliun dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Bontang 2027 ternyata tak sepenuhnya menggambarkan kelonggaran keuangan daerah.

Di balik postur belanja Rp2,003 triliun, Pemkot Bontang masih menghadapi ruang fiskal yang terbatas, termasuk komponen kurang bayar Dana Bagi Hasil (DBH) sekitar Rp402,58 miliar.

Hal itu disampaikan Wali Kota Bontang Neni Moernaeni dalam Rapat Paripurna Penyampaian Nota Keuangan atas Raperda APBD 2027, Sabtu (12/9/2026), di Pendopo Rujab Wali Kota Bontang.

Advertisement

Neni menegaskan, RAPBD yang diajukan pemerintah daerah tidak bisa langsung dianggap sebagai ruang bebas untuk menambah berbagai komitmen belanja. Pemerintah Kota Bontang masih menunggu penetapan definitif alokasi Transfer ke Daerah (TKD) 2027 dari pemerintah pusat.

“Postur RAPBD sekitar Rp2 triliun yang kami ajukan pada hari ini belum dapat dimaknai sebagai ruang fiskal yang seluruhnya bebas untuk membentuk tambahan komitmen belanja,” kata Neni.

Advertisement

Dalam rancangan tersebut, pendapatan daerah 2027 diproyeksikan mencapai Rp1,953 triliun. Sementara belanja daerah direncanakan sebesar Rp2,003 triliun. Pendapatan itu masih sangat bergantung pada dana transfer karena porsinya mencapai Rp1,534 triliun atau sekitar 78,55 persen.

Adapun PAD diproyeksikan Rp390,13 miliar atau 19,97 persen dari total pendapatan. Sisanya berasal dari lain-lain pendapatan daerah yang sah sebesar Rp28,81 miliar atau 1,47 persen.

Neni menyebut kondisi fiskal 2027 berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Karena itu, pemerintah tidak ingin menggunakan pola belanja masa lalu sebagai patokan utama dalam menyusun anggaran.

Lebih jauh, dalam postur RAPBD tersebut sudah diperhitungkan komponen kurang bayar DBH sekitar Rp402,58 miliar. Pemerintah kemudian menyusun skala prioritas dengan tidak menjadikan dana kurang bayar itu sebagai ruang belanja yang bisa langsung digunakan.

“Kalau terdapat kebutuhan yang harus dikurangi, ditunda, atau disesuaikan, maka hal tersebut merupakan konsekuensi dari kemampuan fiskal daerah yang memang lebih terbatas,” ucapnya.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

LAPSUS: Antrean Pertalite di Bontang Mulai Terurai, Wali Kota Minta Tambahan Kuota ke BPH Migas

LAPSUS: Antrean Pertalite di Bontang Mulai Terurai, Wali Kota Minta Tambahan Kuota ke BPH Migas

Pasokan Pertalite Bontang naik menjadi 16 KL per SPBU dan antrean mulai terurai. Pemkot meminta tambahan kuota ke BPH Migas.

Sinergi Kubar-Bontang Diperkuat, SPIP dan Manajemen Risiko Jadi Ruang Berbagi

Sinergi Kubar-Bontang Diperkuat, SPIP dan Manajemen Risiko Jadi Ruang Berbagi

Tidak hanya hal-hal seremonial, dua daerah antara Pemkab Kubar dan Pemkot Bontang membangun sinergi demi kemajuan dan perkembangan bersama.

Rp2 Miliar Dibutuhkan, Pemkot Bontang Gandeng Perusahaan Siapkan Lahan Sekolah Rakyat

Rp2 Miliar Dibutuhkan, Pemkot Bontang Gandeng Perusahaan Siapkan Lahan Sekolah Rakyat

Pemkot Bontang menyiapkan lahan seluas 4 hektare untuk Sekolah Rakyat, sekaligus membuka pintu kolaborasi perusahaan melalui CSR.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer