KALTIMPOST.ID, BONTANG - Antrean truk memadati ruas jalan Jenderal Soedirman hingga Ir H Juanda, Bontang. Kendaraan bermuatan besar ini berbaris hendak mendapatkan bahan bakar jenis solar bersubsidi. Khususnya di SPBU Tanjung Laut.
Salah satu warga RT 6 Armin mengatakan kondisi ini terjadi pada Kamis (10/7/2025) sekira 13.00 Wita. Namun kejadian seperti ini bukan hanya hari ini. “Terkadang beberapa hari pasti begitu (antrean panjang),” kata Armin.
Menurutnya dampak dari kondisi ini ialah ruas jalan menjadi sempit. Belum lagi di simpang tiga Bukit Indah. Situasi ini membahayakan ketika ada pengendara yang tidak waspada karena terbatasnya jalur akibat antrean kendaraan.
Armin juga mempertanyakan tidak adanya petugas patroli yang keliling untuk menertibkan kendaraan antrean solar. Mengingat ruas jalan Ir H Juanda merupakan akses menuju sekolah dan pasar.
“Petugas seharusnya ada untuk memastikan keamanan jalan. Bahaya kalau kena pinggir dump truck,” ucapnya.
Antrean ini hingga sampai UD Mie Kalimantan di Jalan Ir H Juanda. Jika diukur antrean tembus 900 meter dari titik lokasi SPBU Tanjung Laut.
Sementara Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setkot Bontang Lukman menjelaskan untuk distribusi di SPBU tersebut terbilang aman.
Tetapi salah satu SPBU yakni Akawy sudah empat pekan tidak melakukan transaksi pembelian bahan bakar jenis solar. Akibatnya kendaraan hanya bisa melakukan antrean di SPBU Tanjung Laut, Kopkar, dan Kilometer 3.
“Ternyata SPBU Akawy tidak menebus solarnya sudah satu bulan,” tutur dia.
Ia belum mengetahui penyebab kondisi tersebut. Apakah terkendala terkait transportasi atau keuangan di internal mereka. Lukman pun sudah memerintahkan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan, dan Perindustrian (DKUMPP) untuk berkoordinasi dengan manajemen SPBU Akawy.
“Kondisi ini membuat pasokan ke Bontang berkurang. Ini sudah saya perintahkan untuk mencari solusinya,” terangnya.
Diketahui untuk SPBU Tanjung Laut untuk tiap pendistribusian mendapatkan kuota 5 hingga 8 ribu liter solar. Jumlah ini terdistribusi untuk rentang waktu satu hingga dua hari. (*)
Editor : Duito Susanto