KALTIMPOST.ID,KALTIM-Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur melaporkan adanya pergerakan tipis pada angka pengangguran di wilayah tersebut. Per November 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berada di level 5,20%, mengalami kenaikan marginal sebesar 0,02% dibandingkan posisi Agustus 2025.
Kepala BPS Kaltim, Mas'ud Rifai, menyoroti adanya kontras yang cukup tajam dalam struktur ketenagakerjaan saat ini. Mulai dari adanya disparitas gender antara pengangguran pria dan wanita. TPT perempuan melonjak signifikan ke angka 7,30%, sementara TPT laki-laki justru terpantau melandai di angka 4,05%.
Anomali pendidikan menunjukkan lulusan SMK masih menjadi penyumbang pengangguran terbesar dengan angka 9,51%. Kondisi ini berbanding terbalik dengan lulusan universitas yang justru mencatatkan tren positif dalam penyerapan tenaga kerja.
Sementara untuk partisipasi kerja terjadi penurunan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 0,50%, yang kini berada di level 66,08%.
Meskipun angka pengangguran naik tipis, kualitas pekerjaan di Kalimantan Timur menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Misalnya, dominasi sektor formal. Jumlah pekerja formal meningkat menjadi 57,94%, yang menunjukkan bahwa pasar kerja di Kaltim mulai bergeser ke arah pekerjaan yang lebih stabil dengan status karyawan atau buruh tetap.
Produktivitas meningkat kelompok pekerja penuh waktu (bekerja di atas 35 jam per minggu) melonjak menjadi 79,85%. Hal ini dibarengi dengan penurunan drastis pada kategori pekerja paruh waktu dan setengah pengangguran.
Baca Juga: Pelajar MTs Tewas di Tual, Anggota DPR RI Dapil Kaltim Hetifah Desak Evaluasi Total SOP Aparat
Geliat sektor jasa sektor perdagangan tetap menjadi penyerap tenaga kerja utama (18,38%). Namun, sektor akomodasi serta makan dan minum mengalami pertumbuhan paling pesat, mengindikasikan kebangkitan industri pariwisata. Sebaliknya, sektor pertanian justru mencatatkan penurunan penyerapan tenaga kerja yang cukup dalam.
Secara total, penduduk usia kerja di Kaltim mencapai 3,15 juta jiwa. Dari angka tersebut, sebanyak 2,08 juta orang aktif secara ekonomi (angkatan kerja), sementara sekitar 1,07 juta orang lainnya masuk dalam kategori bukan angkatan kerja (seperti pelajar, mahasiswa, atau ibu rumah tangga).(*)
Editor : Thomas Priyandoko