Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Lebih Merata dan Hemat, Drone Tingkatkan Skala Usaha Tani  

Raden Roro Mira Budi Asih • Kamis, 5 Maret 2026 | 12:09 WIB

Mekanisasi pertanian dengan drone sprayer dirasakan petani jauh lebih efisien dan efektif baik dari segi tenaga dan biaya produksi.
Mekanisasi pertanian dengan drone sprayer dirasakan petani jauh lebih efisien dan efektif baik dari segi tenaga dan biaya produksi.
 

 

KALTIMPOST.ID, TENGGARONG – Transformasi pertanian mulai terasa di Bukit Biru, Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar). Sejak akhir 2023, petani di wilayah tersebut mulai memanfaatkan drone sprayer untuk perawatan tanaman padi. Hasilnya bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga efisiensi biaya produksi.

Digital farming tersebut merupakan bagian dari Program Implementasi Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah (PI-KEKDA) Bank Indonesia Kaltim.  Abdul Sani, Ketua Kelompok Tani (Poktan) Sukamaju sekaligus Ketua Usaha Pelayanan Jasa Alat dan Mesin Pertanian (UPJA) Bukit Biru, mengatakan penggunaan teknologi memangkas waktu kerja secara signifikan.

“Untuk pengendalian hama maupun perawatan tanaman penggunaan teknologi ini sebenarnya mempermudah petani sebetulnya. Lebih efektif dan lebih efisien dengan penggunaan teknologi,” ujarnya.

Poktan Sukamaju sendiri beranggotakan 42 petani dengan luasan lahan 22,5 hektare. Sementara total lahan pertanian di Bukit Biru mencapai 307 hektare dengan 23 kelompok tani.

Menurut Sani, perbedaan paling terasa ada pada waktu penyemprotan. Jika dilakukan manual menggunakan sprayer punggung, satu hektare bisa menghabiskan satu hari penuh. “Kalau kita manual menggunakan tenaga manusia untuk satu hektar paling tidak semisal kita habis 10 tangki dari pagi sampai sore,” jelasnya.

Namun dengan drone sprayer, waktu yang dibutuhkan jauh lebih singkat. “Kalau kita menggunakan teknologi dengan drone sprayer ini paling setengah jam itu selesai,” katanya.

Efisiensi juga terjadi pada penggunaan pestisida. Dia memberi gambaran, jika manual satu hektare bisa menghabiskan 10 tutup dosis, maka dengan drone jauh lebih hemat.

“Kalau kita menggunakan drone sprayer dengan penggunaan dosis yang sama itu paling hanya dua atau tiga tutup sehingga efisiensi pestisida itu jauh begitu,” ungkapnya.

Selain lebih hemat, hasil semprotan juga dinilai lebih merata. Saat ini, drone dikelola melalui UPJA. Tidak semua petani bisa mengoperasikan alat tersebut. Hanya enam orang yang sudah dilatih dan memiliki sertifikasi resmi sebagai pilot drone.

Sistemnya berbasis layanan jasa. Petani yang membutuhkan penyemprotan cukup menghubungi UPJA. “Petani siapa yang meminta untuk menggunakan drone, maka menghubungi kami. Nanti UPJA yang melakukan pengendalian hama maupun pemupukan di lahan,” terangnya.

Bagi Sani, teknologi tersebut bukan sekadar alat modern, tetapi peluang jangka panjang agar petani bisa meningkatkan skala usaha. “Dengan penggunaan teknologi ini bisa mendorong petani itu untuk menjadi pengusaha tani,” tegasnya.

Meski belum semua petani langsung beradaptasi, dia optimistis penggunaan drone akan semakin meluas seiring waktu dan bukti nyata efisiensi di lapangan. (*)

Editor : Sukri Sikki
#pertanian #Bukit Biru Tenggarong #ABDUL SANI #Drone Sprayer