Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Mandau Menuju UNESCO: Dari Pusaka Dayak Jadi Warisan Dunia

Sunardi Kaltim Post • Minggu, 2 November 2025 | 09:11 WIB

Stafsus Kemenbud RI Bidang Sejarah dan Perlindungan Warisan Budaya, Basuki Teguh Yuwono (kanan), bersama Ketua Paguyuban Tosan Aji Pinang Sendawar, dr Waluyo.
Stafsus Kemenbud RI Bidang Sejarah dan Perlindungan Warisan Budaya, Basuki Teguh Yuwono (kanan), bersama Ketua Paguyuban Tosan Aji Pinang Sendawar, dr Waluyo.

KALTIMPOST.ID, SENDAWAR
– Sebuah pusaka asal Kalimantan tengah diperjuangkan agar diakui dunia.

Bukan sekadar benda warisan, tetapi simbol nilai-nilai luhur yang hidup di tengah masyarakat adat.

Baca Juga: Final Behempas Open 2025 di Sendawar, Delapan Partai Siap Sajikan Laga Seru dan Hiburan untuk Penonton

Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) Republik Indonesia kini berupaya mendorong Mandau, senjata tradisional masyarakat Dayak.

Untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Sebelumnya, Mandau telah resmi menyandang status Warisan Budaya Tak Benda tingkat nasional.

Staf Khusus Menteri Bidang Sejarah dan Perlindungan Warisan Budaya Kemenbud RI, Basuki Teguh Yuwono, mengungkapkan bahwa sejak penetapan di tingkat nasional, banyak daerah di Kalimantan mulai menempatkan Mandau bukan sekadar benda.

Melainkan pusaka yang sarat makna bagi masyarakat Dayak. “Upaya pemajuan berbagai sektor budaya terkait Mandau tumbuh sangat baik,” ujarnya, Sabtu (1/11/2025).

Basuki menegaskan bahwa Mandau bukanlah senjata, melainkan pusaka yang memuat nilai-nilai spiritual, kesatria, adat, hingga identitas budaya.

"Kalau senjata hanya sebatas alat, sedangkan pusaka mengandung makna nilai. Mandau mencerminkan sportivitas, kesatria, spiritualitas, adat istiadat, dan komunikasi budaya,” jelasnya.

Terkait proses menuju pengakuan UNESCO, Basuki menyebut tantangan utama bukan terletak pada teknis, melainkan konsistensi dan kesiapan jangka panjang.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak berhenti berupaya setelah Mandau ditetapkan nanti.

“Jangan hanya euforia saat penetapan. Justru setelah itu, kita harus terus menumbuhkan dan menghidupkan kembali nilai-nilai Mandau di masyarakat,” tegasnya.

Pemerintah, para maestro budaya, serta komunitas seperti Aji Gasan Tosan Aji di Kutai Barat kini aktif menggali dan mengembangkan kembali budaya Mandau agar semakin berakar.

Langkah ini menjadi pondasi penting sebelum pengakuan internasional diberikan.

“Ketika Mandau ditetapkan oleh UNESCO, artinya ia menjadi bagian dari budaya dunia. Maka kita harus siap berbenah.

Baca Juga: Upaya Pelestarian Wastra Sarut Dayak Benuaq oleh PT TCM, Dianugerahi Trofi Subroto Award 2025

Nilainya harus hadir dalam busana adat, seni rupa, desain interior, bahasa, hingga motif fashion,” tutur Basuki.

Ia menambahkan, popularitas Mandau kelak harus diimbangi dengan pelestarian nilai-nilai yang dikandungnya.

“Kita jangan hanya terpaku pada bentuk fisiknya, tetapi juga memastikan nilai-nilai Mandau terus hidup dan diimplementasikan,” pungkasnya. (*)

 

Editor : Ery Supriyadi
#warisan budaya tak benda #spiritual #mandau #Simbol Identitas #unesco #Kemenbud #Dayak