SANGATTA - Kepemimpinan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kutai Timur (Kutim) resmi berganti. Januar Bayu Irawan mengambil alih jabatan Kepala Bappeda setelah dilantik dan mengucapkan sumpah jabatan, Rabu (17/12).
Di bawah kepemimpinan Bayu, perencanaan pembangunan daerah mulai difokuskan pada isu kebencanaan, pengelolaan lingkungan, serta transisi ekonomi agar tidak sepenuhnya bergantung pada sektor ekstraktif, seperti batu bara.
Bayu menjelaskan, setiap rencana pembangunan harus selaras dengan visi dan misi kepala daerah, sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata. Untuk itu kata dia, Bappeda menekankan pemetaan kondisi lapangan sebagai tahap awal penentuan program prioritas.
“Kami potret dulu kondisinya, lihat dulu faktanya dan apa kebutuhan masyarakat yang paling utama,” ujar Bayu, Kamis (18/12). Setelah pemetaan, hasilnya akan dibandingkan dengan 50 program prioritas Bupati Kutim. Tujuannya untuk menilai relevansi dan dampak program terhadap masyarakat.
Baca Juga: Kejaksaan Negeri Kutai Tumur Raih Predikat WBK 2025 dari KemenPAN-RB
“Itu kita sandingkan dengan visi-misi Pak Bupati dalam 50 program Unggulan,” tambahnya. Bayu juga menekankan perlunya perencanaan yang cermat mengingat keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Menurutnya, perencanaan harus selektif agar setiap program memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat. "Jadi kami sekarang ini harus benar-benar pintar untuk merencanakan. Jadi kalau kita tidak pintar, karena duitnya cuma sedikit ini sebenarnya PR berat bagi saya," tuturnya.
Selain isu lingkungan dan kebencanaan, fokus Bappeda juga tertuju pada ketergantungan ekonomi daerah terhadap batu bara. Bayu menilai, komoditas tersebut masih menjadi penopang perekonomian, tetapi memiliki risiko jangka panjang karena bersifat tidak terbarukan.
Baca Juga: Jelang Natal dan Tahun Baru di Kutim, Petasan Bakal Dirazia
“Karena bagaimanapun juga batu bara itu sumber daya alam yang tidak bisa diperbarui. Suatu saat akan habis,” katanya. Selama sektor batu bara masih beroperasi, kontribusinya tetap dioptimalkan. Namun, langkah transisi menuju sektor ekonomi alternatif yang lebih berkelanjutan juga mulai disiapkan.
“Bagaimana pun selama ini Batu Bara masih ada, kami berupaya mengejot ekonomi masyarakat. Jadi, jangan sampai kita tidak mulai dari sekarang gitu,” pungkas Bayu. (*/riz)
Editor : Muhammad Rizki