Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Festival Lom Plai 2026 Tampil Beda, Budaya Dayak Wehea Dipoles Jadi Magnet Wisata

Jufriadi • Kamis, 26 Maret 2026 | 13:32 WIB

 

BUDAYA: Masyarakat adat Dayak Wehea bergotong royong menyiapkan kebutuhan jelang rangkaian Festival Lom Plai 2026 di Desa Nehas Liah Bing.
BUDAYA: Masyarakat adat Dayak Wehea bergotong royong menyiapkan kebutuhan jelang rangkaian Festival Lom Plai 2026 di Desa Nehas Liah Bing.

KALTIMPOST.ID, SANGATTA – Festival Adat dan Budaya Lom Plai 2026 tampil dengan wajah baru. Tradisi syukuran panen masyarakat Dayak Wehea, Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur (Kutim) itu kini masuk dalam kalender nasional Kharisma Event Nusantara (KEN), membuat skala penyelenggaraan ikut terdongkrak.

Perubahan paling terasa terlihat dari sisi persiapan. Jika sebelumnya dilakukan lebih sederhana, tahun ini masyarakat mulai bergerak lebih awal dan terorganisir sejak 23 Maret 2026, ditandai dengan ritual pembukaan melalui bunyi gong.

Staf Lembaga Adat Wehea, Yuliana Wetuq, mengatakan keterlibatan warga juga semakin luas, melibatkan lintas generasi dalam gotong royong yang berlangsung hampir sebulan.

“Dari anak muda sampai orang tua terlibat. Mereka membersihkan kampung, membuat gapura ukiran, sampai menyiapkan ornamen kayu,” ujar Yuliana.

Tak hanya itu, sentuhan baru juga mulai terlihat dalam kemasan festival. Untuk pertama kalinya, panitia menghadirkan maskot Topeng Hudoq berukuran besar yang akan ditempatkan di sejumlah titik strategis sebagai daya tarik visual.

Penataan kawasan pun dibuat lebih rapi, terutama di Desa Nehas Liah Bing sebagai pusat kegiatan. Fasilitas seperti lahan parkir, panggung, hingga persiapan tari kolosal dan alat musik tradisional kini disiapkan lebih matang.

Meski mengalami pengembangan, pola tradisi tetap dipertahankan. Enam desa di wilayah adat Wehea seperti Nehas Liah Bing, Jak Luay, Diak Lay, Long Wehea, Bea Nehas, dan Deabeq tetap menjalankan Lom Plai secara bergiliran.

“Setiap desa tetap melaksanakan, hanya waktunya berbeda. Itu tidak bisa diubah karena sudah menjadi bagian dari tradisi,” katanya.

Berbagai lomba tradisional seperti gasing, engrang, menyumpit, hingga meraut kayu juga tetap digelar, namun dengan kemasan yang lebih menarik bagi wisatawan.

Masuknya Lom Plai ke KEN membuat festival ini tak lagi semata ritual adat, tetapi juga diarahkan sebagai magnet wisata budaya. Puncak acara dijadwalkan berlangsung pada 22–29 April 2026.

“Intinya tradisi tetap dijaga, tapi sekarang kita juga mulai menyesuaikan dengan kebutuhan pengunjung,” bebernya.

Pemkab Kutim menargetkan kunjungan sekitar 12 ribu wisatawan sepanjang rangkaian kegiatan yang berlangsung dari 23 Maret hingga 29 April 2026.

Target tersebut meningkat dari capaian tahun lalu yang berada di kisaran 10 ribu pengunjung. Pelaku usaha seperti hotel, penginapan, dan rumah makan diminta bersiap.

Promosi pun diperkuat melalui media sosial, kolaborasi dengan berbagai pihak, hingga lomba fotografi dan videografi untuk menarik minat wisatawan datang langsung. (*)

Editor : Duito Susanto
#magnet wisata #ritual adat #kutai timur #Kharisma Event Nusantara #pemkab kutim #sangatta #Festival Lom Plai #Dayak Wehea