KALTIMPOST.ID, Masih ingat kehebohan “Lazy Girl Job” yang meledak di TikTok pada 2023 lalu? Banyak yang mengira itu hanya tren sesaat, sekadar istilah viral dari Gen Z yang ingin kerja santai dan dapat cuan besar.
Namun, dua tahun berlalu, fenomena ini bukan hilang begitu saja, tapi justru berevolusi menjadi strategi karier yang serius. Di akhir 2025, diskusi seputar “lazy girl job” masih terus menghangat.
Tren ini apakah menjadi cermin dari kemalasan Gen Z, atau justru strategi kecerdasan finansial dan kesehatan mental?
Evolusi Makna: Dari “Malas” Menjadi “Cerdas”
Istilah “Lazy Girl Job” awalnya merujuk pada pekerjaan dengan stres minimal, fleksibilitas tinggi (bisa remote), dan gaji yang “cukup” untuk hidup nyaman.
Konsep ini adalah antitesis langsung dari hustle culture yang dibanggakan generasi Milenial.
Dulu, ini dianggap sebagai puncak kemalasan. Sekarang, ini dipandang sebagai pilihan cerdas.
Gen Z menyaksikan generasi sebelumnya terjebak dalam burnout dan utang demi mengejar “karier impian”. Mereka menolak mengorbankan kewarasan untuk jabatan. Bagi mereka, pekerjaan adalah alat untuk membiayai hidup, bukan sebaliknya.
Lebih dari Sekadar Gaji: Ini soal “Energi”
Riset terbaru di tahun 2025 menunjukkan bahwa prioritas utama pencari kerja muda bukan lagi gaji tertinggi, melainkan work-life balance.
Di sinilah letak relevansi abadi “lazy girl job”. Pekerjaan ini (seperti admin, data entry, atau customer service representative) mungkin tidak glamor, tapi pekerjaan ini “selesai” tepat pukul 4 atau 5 sore.
Ini memberikan Gen Z sesuatu yang lebih berharga daripada gaji besar: energi.
Energi yang tidak terkuras di kantor inilah yang kemudian mereka gunakan untuk hal lain. Mereka tidak benar-benar “malas”. Setelah laptop kantor ditutup, mereka membuka laptop pribadi untuk mengerjakan side hustle, membangun bisnis rintisan, menekuni hobi yang bisa jadi sumber pendapatan (menjadi content creator, misalnya), atau sekadar punya waktu untuk berolahraga dan bersosialisasi.
“Lazy Girl Job” sebagai Jaring Pengaman
Gabrielle Judge, kreator yang mempopulerkan istilah ini, bahkan menjelaskan bahwa “lazy girl job” adalah “jaring pengaman”. Itu adalah pekerjaan stabil dengan gaji aman yang tidak menguras mental, yang memungkinkannya membangun bisnisnya sendiri di luar jam kerja.
Ini adalah sebuah strategi. Daripada mengambil risiko penuh menjadi entrepreneur tanpa pemasukan, mereka memilih pekerjaan “biasa saja” untuk membayar tagihan, sambil menggunakan waktu luang mereka untuk mengejar ambisi yang sebenarnya.
Jadi, fenomena ini masih sangat relevan. Apa yang kita lihat di 2025 adalah pematangan dari sebuah tren. “Lazy Girl Job” bukan lagi soal bekerja sesedikit mungkin, tapi soal bekerja secukupnya agar hidup bisa dinikmati semaksimal mungkin. Kalau kamu tertarik kerja seperti Lazy Girl Job?
Editor : Hernawati